Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 11 Mei 2025 | 07.05 WIB

Studi Ungkap Gen Z Ternyata Generasi Paling Sengsara dalam Sejarah Modern, Kok Bisa?

Seorang perempuan memandangi ponsel di tempat tidur, menggambarkan kelelahan emosional dan keterikatan Gen Z pada dunia digital (Dok. glamourmagazine.co.uk) - Image

Seorang perempuan memandangi ponsel di tempat tidur, menggambarkan kelelahan emosional dan keterikatan Gen Z pada dunia digital (Dok. glamourmagazine.co.uk)

JawaPos.com - Siapa yang menyangka bahwa di era di mana kesehatan mental dan gaya hidup sehat menjadi sorotan utama, generasi yang tumbuh bersama teknologi justru mengalami krisis kebahagiaan yang mengkhawatirkan. Sebuah penelitian global yang dipimpin oleh Arthur C. Brooks, profesor dari Harvard University, mengungkapkan kenyataan pahit tentang Gen Z, bahwa meski hidup di zaman serba "wellness", mereka justru menjadi generasi paling tidak bahagia dalam sejarah modern.

Dilansir dari UnionRayo.com, Global Flourishing Study yang melibatkan lebih dari 200.000 responden dari 22 negara menyimpulkan bahwa jutaan anak muda di seluruh dunia mengalami kesepian akut dan perasaan hampa eksistensial. Ironisnya, hal yang seperti ini terjadi justru di tengah era digital yang memungkinkan konektivitas instan tanpa batas.

Keterhubungan Semu, Kebahagiaan Semu

Menurut Brooks, masalah utamanya bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan pada cara kita menggantikan pengalaman manusia yang nyata dengan simulasi digital. Interaksi langsung yang hangat antar keluarga kini tergantikan oleh percakapan singkat lewat chat dan media sosial yang dangkal. Hal ini tak hanya melemahkan kehidupan sosial, tetapi juga merusak harga diri para penggunanya.

Lebih jauh, Brooks menekankan bahwa relasi yang dibentuk melalui layar bukanlah hubungan yang sejati. Anak muda yang mampu melepaskan diri dari jebakan digital justru dilaporkan memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dibanding mereka yang terjebak dalam pusaran notifikasi, likes, dan validasi eksternal.

Kaya secara Materi, Kosong secara Makna

Temuan mengejutkan lainnya dalam studi ini adalah bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan, justru semakin rendah rasa memiliki tujuan hidup. Fenomena ini memperkuat ungkapan lama bahwa uang memang bisa membeli kenyamanan, tetapi tidak bisa menghadirkan kebahagiaan. Bahkan, di beberapa negara, angka identifikasi terhadap agama dan spiritualitas menurun drastis, dan kekosongan itu kemudian diisi oleh konsumerisme dan pencapaian semu.

"Tanpa tujuan hidup, kebahagiaan hanyalah ilusi," ujar Brooks dalam laporannya.

Bagaimana Cara untuk Keluar dari Krisis Emosional Ini?

Untuk mengatasi krisis ini, Brooks menyarankan tiga langkah konkret:

  1. Prioritaskan hubungan nyata: Bertemu langsung, berbicara, tertawa, dan menyentuh sesama manusia adalah kebutuhan dasar yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi.
  2. Kembangkan kehidupan batin: Bentuk spiritualitas, apa pun itu, membantu menemukan arah dan makna dalam hidup.
  3. Redefinisi kesuksesan: Kesuksesan bukan soal kepemilikan materi, tetapi tentang ketenangan dan rasa cukup dalam diri sendiri.

Generasi yang Butuh Didengar

Generasi Z bukanlah generasi manja, seperti label yang kerapkali masyarakat sematkan pada mereka. Mereka adalah generasi yang butuh didengarkan dan dimengerti. Mereka hidup dalam dunia yang serba cepat dan instan, namun berebeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z sangat fakir secara koneksi yang sejati dan bermakna. Dengan segala fasilitas dan kenyamanan yang kelihatannya sempurna, perasaan kosong mereka tak bisa terpenuhi hanya dengan followers, komentar, atau barang mewah.

Sebagaimana dilaporkan oleh Union Rayo, "Manusia tidak diciptakan untuk kesepian, atau untuk mengisi kekosongan dengan belanja, followers, atau notifikasi." Kini saatnya kita kembali pada hal-hal yang sederhana namun menghadirkan makna dalam hidup kita, seperti hubungan yang tulus, percakapan yang jujur, kasih sayang, dan hidup dengan penuh empati.

Baca Juga: 7 Gadget yang Dulu Dipakai Setiap Hari oleh Boomer dan Kini Asing bagi Gen Z, Ini Penjelasannya!

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore