Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 6 Mei 2025 | 07.27 WIB

Jika Kamu Tidak Suka Panggilan Telepon, Psikologi Ungkap Kemungkinan Punya 6 Ciri Kepribadian Ini

Ilustrasi orang yang menolak panggilan telepon../Freepik. - Image

Ilustrasi orang yang menolak panggilan telepon../Freepik.

JawaPos.com - Panggilan telepon terkadang mewakili percakapan yang lebih lengkap dibanding sekedar pesan teks, dan itu cukup memberikan informasi yang jelas.

Namun pada kenyataannya, tidak semua orang menyukai panggilan telepon, entah dengan alasan apapun itu. Mereka lebih baik komunikasi lewat pesan teks atau bahkan bertemu secara langsung.

Dilansir dari laman DM News pada Minggu (04/05) jika kamu adalah orang yang tidak suka panggilan telepon, psikologi ungkap kemungkinan punya 6 ciri kepribadian ini :

1. Menghargai koneksi yang dalam

Psikologi memberi tahu kita bahwa bagi sebagian orang, panggilan telepon terasa dangkal dan kurang mendalam. Bukannya kamu antisosial, justru sebaliknya.

Kamu berkembang dalam pengaturan satu lawan satu di mana benar-benar dapat menyelami percakapan dan terhubung pada tingkat yang lebih dalam.

Panggilan telepon bisa terasa terburu-buru, tanpa nuansa yang ditawarkan interaksi tatap muka.

Itu hanya menunjukkan bahwa kamu adalah seseorang yang menghargai kualitas daripada kuantitas dalam hal hubungan, kamu juga lebih suka hati ke hati yang tulus daripada obrolan yang terburu-buru di telepon.

2. Kamu seorang introvert

Psikologi menyarankan bahwa jika kamu berbagi ketidaksukaan ini untuk melakukan panggilan telepon, kemungkinan besar seorang introvert.

Introvert sering menemukan panggilan telepon invasif dan menguras tenaga. Introvert seperti kita mengisi ulang melalui kesendirian. Panggilan telepon yang tidak direncanakan dapat mengganggu waktu henti yang sangat dibutuhkan.

3. Kamu adalah seorang empati yang tinggi

Jika merasa tidak nyaman dengan panggilan telepon, itu mungkin karena kamu seorang empati yang tinggi. Perilaku tersebut merupakan individu yang sangat sensitif dan selaras dengan emosi orang lain.

Sebuah penelitian menemukan bahwa empati yang tinggi memiliki peningkatan aktivitas di area otak yang terkait dengan empati dan pemrosesan emosional. Hal ini membuat mereka lebih rentan untuk merasa kewalahan dalam situasi di mana sinyal emosional ambigu atau tidak ada.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore