Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 April 2025 | 01.57 WIB

Psikologi Ungkap: 7 Hal di Masa Kecil Ini Sering Jadi Penyebab Renggangnya Hubungan Antar-Saudara di Masa Dewasa

Ilustrasi renggangnya hubungan antar-saudara di masa dewasa. (freepik) - Image

Ilustrasi renggangnya hubungan antar-saudara di masa dewasa. (freepik)

JawaPos.com - Tidak semua hubungan antar-saudara bisa berjalan mulus hingga dewasa.

Mungkin kamu pernah merasa hubungan dengan kakak atau adikmu semakin renggang seiring bertambahnya usia, padahal dulu kalian sangat dekat sekali.

Ternyata, menurut psikologi, ada beberapa hal yang terjadi di masa kecil dan tanpa disadari ini bisa menjadi akar dari renggangnya hubungan tersebut.

Dengan memahaminya, kita bisa lebih sadar dan mulai memperbaiki hubungan yang mungkin sudah lama terasa dingin atau canggung.

Dilansir dari laman Personal Branding Blog pada Rabu (23/4), berikut merupakan 7 hal di masa kecil yang sering jadi penyebab renggangnya hubungan antar-saudara di masa dewasa.

1. Urutan Kelahiran

Urutan kelahiran dalam keluarga ternyata punya pengaruh besar terhadap cara anak-anak bersikap dan melihat peran mereka dalam keluarga.

Anak pertama biasanya tumbuh dengan banyak tanggung jawab dan harapan tinggi dari orang tua. Mereka cenderung menjadi sosok yang perfeksionis, serius, dan merasa harus selalu memberi contoh.

Anak bungsu sering kali dianggap sebagai "si kecil" yang selalu dimanja, sehingga kadang tidak dianggap serius oleh anggota keluarga lainnya.

Sementara itu, anak tengah sering merasa terjepit atau terlupakan karena tidak mendapat perhatian sebanyak kakak atau adik mereka.

Ketidakseimbangan ini dapat menimbulkan rasa iri, persaingan, atau bahkan konflik berkepanjangan yang terbawa hingga dewasa, terutama jika tidak pernah disadari atau dibahas secara terbuka.

2. Perlakuan Orang Tua yang Tidak Adil (Favoritisme)

Perlakuan yang tidak seimbang dari orang tua, seperti lebih menyayangi atau memuji salah satu anak, bisa menjadi sumber konflik antara saudara.

Ketika salah satu anak merasa lebih disukai, sedangkan yang lain merasa diabaikan atau kurang dihargai, akan muncul rasa sakit hati yang bisa bertahan lama.

Kadang, favoritisme ini dilakukan tanpa sadar, misalnya karena kepribadian anak yang satu lebih mudah dikendalikan atau lebih menyenangkan. Namun, dampaknya sangat nyata.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore