Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 April 2025 | 05.21 WIB

Inilah 8 Kebiasaan Kerja Toxic yang Mulai Ditinggalkan Generasi Milenial Modern

Ilustrasi perbedaan pandangan dan kebiasaan antargenerasi di lingkungan kerja. (Freepik) - Image

Ilustrasi perbedaan pandangan dan kebiasaan antargenerasi di lingkungan kerja. (Freepik)

JawaPos.com - Berbicara soal dunia kerja, setiap generasi tentu punya pandangan dan prioritasnya sendiri dalam menjalani rutinitas harian di kantor. Apa yang dianggap normal atau bahkan sebuah keharusan di masa lalu mungkin saja tidak lagi relevan atau sehat bagi para pekerja saat ini.

Terutama bagi generasi milenial, ada beberapa kebiasaan di tempat kerja yang dulunya dianggap biasa bahkan dinormalisasi oleh generasi sebelumnya. Namun, kini kebiasaan-kebiasaan tersebut perlahan mulai mereka tinggalkan demi kesejahteraan dan efektivitas kerja yang lebih baik.

Melansir Geediting.com pada Selasa (22/4), berikut adalah delapan kebiasaan toxic di lingkungan kerja yang kini mulai ditinggalkan oleh generasi milenial.

1. Menilai Komitmen dari Jam Kerja di Kursi

Satu di antara kebiasaan yang mulai ditinggalkan adalah anggapan bahwa karyawan paling berkomitmen adalah mereka yang paling lama duduk di kantor. Produktivitas dan hasil kerja sekarang dinilai lebih penting daripada sekadar menghabiskan banyak waktu fisik di dalam gedung perusahaan setiap hari.

2. Menganggap Kelelahan Parah Sebagai Penghargaan

Milenial tidak lagi melihat kondisi burnout atau kelelahan ekstrem akibat kerja sebagai sesuatu yang patut dibanggakan atau tanda keberhasilan. Mereka sadar bahwa kesehatan mental dan fisik adalah prioritas utama yang harus dijaga demi keberlanjutan kinerja jangka panjang.

3. Menimbun Hari Libur Seperti Trofi

Menyimpan cuti atau hari libur sebanyak mungkin layaknya mengoleksi piala bukanlah kebiasaan yang diminati oleh generasi ini di tempat kerja. Mereka memahami pentingnya istirahat dan pemulihan untuk menjaga kesehatan mental serta produktivitas kerja agar tetap optimal.

4. Memperlakukan Gaji Sebagai Rahasia Negara

Diskusi terbuka mengenai besaran gaji atau kompensasi di antara rekan kerja tidak lagi dianggap tabu atau sesuatu yang harus disembunyikan rapat-rapat. Transparansi gaji dipandang sebagai langkah penting menuju keadilan dan kesetaraan di lingkungan profesional modern.

5. Menyamakan Loyalitas dengan Bertahan Selamanya

Konsep loyalitas kepada perusahaan tidak lagi diartikan sebagai keharusan untuk bekerja di tempat yang sama sampai pensiun datang menyapa. Loyalitas kini lebih dimaknai sebagai kontribusi terbaik selama masih menjadi bagian dari tim, bukan masalah durasi waktu yang sangat panjang.

6. Berpura-pura Kesehatan Mental Bukan Urusan Kantor

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore