Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 April 2025 | 22.58 WIB

Mitos 'Wanita Lebih Emosional' Terbantahkan! Sains Buktikan Pria Juga Alami Fluktuasi Emosi yang Sama Intensnya

Ilustrasi seorang laki-laki yang merasa emosional (Dok. Pexels)

JawaPos.com - "Kamu lebay banget sih, cuma gitu aja nangis!" atau "Jangan marah-marah, kayak cewek aja!"—Ungkapan seperti ini sering dilontarkan ke wanita, seolah emosi adalah 'privilege' gender tertentu. Padahal, riset membuktikan bahwa pria pun mengalami fluktuasi emosi yang sama intensnya.

Dilansir dari VeryWellMind.com pada Selasa (22/04), anggapan bahwa wanita lebih emosional adalah warisan patriarki yang sudah ketinggalan zaman. Stereotip ini tidak hanya merugikan perempuan, tapi juga memenjara pria dalam ekspektasi sosial yang kaku. Yuk, kupas tuntas fakta ilmiah dan dampaknya!

Sains Membantah: Emosi Bukan Soal Gender

Studi tahun 2021 di Scientific Reports mengamati 142 pria dan wanita selama beberapa minggu. Hasilnya, emosi pria ternyata fluktuatif sama seperti wanita—mulai dari senang, sedih, hingga marah. Ini seperti mengukur kadar gula darah: semua orang punya naik-turun, terlepas dari gendernya.

Dr. Catherine McKinley dari Tulane University menjelaskan, stereotip 'wanita emosional, pria tegar' adalah produk patriarki yang menganggap femininitas sebagai hal inferior. "Emosi adalah bagian alami manusia, bukan ciri gender," tegasnya. Bayangkan jika motor matic dan manual dianggap 'lebih emosional' hanya karena suara mesinnya berbeda—tentu tidak relevan, kan?

Dampak Stereotip: Dari Dunia Kerja hingga Kekerasan

Stereotip ini membuat wanita kerap diremehkan di tempat kerja. Misalnya, saat wanita menyampaikan pendapat dengan tegas, ia dianggap 'emosional', sementara pria dengan sikap sama disebut 'tegas'. Di sisi lain, pria yang menangis justru dicap 'lemah'. Sistem ini ibarat lomba lari dimana peserta wanita harus memakai sepatu hak tinggi—tidak adil dan berbahaya.

Liz Coleclough, pakar trauma, menambahkan bahwa tekanan untuk 'masuk kotak' gender bisa memicu kekerasan. Data National Coalition Against Domestic Violence menunjukkan 1 dari 3 wanita mengalami kekerasan pasangan. "Patriarki memberi pria ilusi kuasa mutlak, sementara korban yang tidak sesuai stereotip feminin sering disalahkan," paparnya. Ini mirip kasus penumpang pesawat yang disalahkan karena pakaiannya 'menggoda'—logika yang absurd!

Solusi: Akui Emosi sebagai Bahasa Universal

Emosi bukan musuh—ia adalah sistem alarm alami tubuh. Ketika lapar, kita makan; ketika lelah, kita tidur. Lalu mengapa sedih atau marah harus disembunyikan? Mulailah dengan mengapresiasi ekspresi emosi pasangan, rekan kerja, atau anak tanpa label gender.

Di Finlandia, anak-anak diajari mengenali emosi melalui kursus emotional intelligence sejak SD. Hasilnya? Negara ini masuk 5 besar negara paling bahagia sedunia. Kita bisa mencontohnya dengan tidak lagi melabeli anak laki-laki 'cupu' saat menangis, atau memuji anak perempuan yang berani marah saat dirugikan.

 Membongkar mitos 'wanita emosional' bukan hanya soal kesetaraan, tapi juga membebaskan pria dari belenggu 'jangan cengeng'. Mari ganti stereotip usang dengan empati—karena semua manusia berhak merasa, tanpa perlu minta izin.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore