Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 April 2025 | 21.59 WIB

8 Keterampilan yang Tidak Pernah Dipelajari Milenial, Tapi Dikuasai Generasi Terdahulu Sejak Usia 12 Tahun

Ilustrasi generasi milenial. (Freepik) - Image

Ilustrasi generasi milenial. (Freepik)

JawaPos.com - Lahir pada tahun 1988 berarti tumbuh di masa peralihan antara era analog dan digital. Ada kenangan tentang memutar kaset, mengetik tugas sekolah menggunakan mesin ketik, hingga menunggu koneksi modem dial-up tersambung ke internet. Namun, masa itu juga menjadi saksi kemunculan ponsel pintar, media sosial, dan kemudahan teknologi yang serba instan.

Sebagai pendiri Hack Spirit dan Small Business Bonfire, banyak tulisan yang membahas seputar pengembangan diri dan bagaimana cara beradaptasi serta berkembang di tengah dunia digital yang terus berubah. Namun, belakangan ini semakin terasa bahwa ada sejumlah keterampilan hidup yang dulu dianggap lumrah—bahkan bisa dikuasai oleh anak usia 12 tahun—kini seperti menjadi "seni yang terlupakan".

Dilansir JawaPos.com dari laman Geediting.com pada 5 April 2025, ada delapan keterampilan yang dulu umum dimiliki generasi terdahulu, namun kini nyaris tak dikenal oleh banyak milenial dan Gen Z. Bukan karena kurang cerdas, tetapi karena tidak adanya kesempatan atau kebutuhan untuk mempelajarinya. Meski demikian, seperti hal-hal berharga lainnya, tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar kembali.

1. Menulis dan Mengirim Surat Fisik

Masih teringat bagaimana di bangku sekolah dasar diajarkan format penulisan surat? Mulai dari mencantumkan alamat penerima, salam pembuka, isi pesan, hingga penutup yang sopan—semua ditulis dengan rapi di atas kertas.

Bagi generasi sebelumnya, menulis surat adalah cara alami untuk berkomunikasi jarak jauh. Belum ada WhatsApp atau DM Instagram. Jika ingin mengucapkan selamat ulang tahun atau menyampaikan kabar, satu-satunya cara adalah menulis surat dan mengirimkannya secara fisik.

Yang hilang dari kebiasaan ini adalah nuansa personal yang begitu dalam. Menulis surat membutuhkan waktu, perhatian, dan niat yang tulus. Sementara menerima surat menghadirkan kesan bahwa pengirimnya benar-benar peduli.

2. Membaca Peta dan Menavigasi Tanpa Bantuan GPS

Peta kertas dulu adalah versi awal dari Google Maps. Dengan lipatan yang rumit dan berbagai simbol yang perlu dipahami, anak-anak generasi 80-an dan 90-an terbiasa menggunakannya.

Dalam perjalanan keluar kota, orang tua sering mempercayakan peta kepada anak untuk membantu menavigasi. Aktivitas ini melatih kemampuan spasial dan perencanaan rute—keterampilan yang kini banyak dialihkan pada suara digital yang memberi instruksi seperti, "Belok kanan dalam 300 meter".

Yang hilang dari kebiasaan ini adalah kemampuan orientasi ruang dan rasa percaya diri dalam menghadapi situasi tak terduga. GPS memang memudahkan, namun juga menumbuhkan ketergantungan berlebih dan rasa panik saat sinyal tiba-tiba menghilang.

3. Menyeimbangkan Buku Cek dan Mencatat Keuangan Manual

Generasi sebelumnya tahu bagaimana setiap sen dikeluarkan. Buku cek harus dicatat, transaksi harus ditulis manual. Kesalahan kecil bisa berarti cek ditolak.

Saat ini? Aplikasi perbankan dan notifikasi saldo otomatis mengambil alih. Praktis, iya. Tapi apakah kita benar-benar memahami ke mana perginya uang?

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore