Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 13 Maret 2025 | 14.31 WIB

9 Kebohongan Putih: Dari Pujian Palsu Hingga Janji Kosong, Apa Kata Psikologi?

 
 

Ilustrasi Orang yang tak sadar sering melakukan bohong putih demi menjaga hubungan dengan orang lain.(Freepik)

 
 
JawaPos.com - Kebohongan putih sering dianggap sebagai hal kecil dalam interaksi sosial. Namun, tahukah Anda bahwa kebohongan ini memiliki implikasi psikologis yang menarik? Artikel ini akan mengulas sembilan kebohongan putih yang umum diucapkan. Kita akan membahas mengapa kita melakukannya dan apa kata psikologi tentang fenomena ini.
 
Dikutip dari geediting pada Kamis (13/3), berikut sembilan Kebohongan Putih yang Umum
 
1. Berkata "Saya Baik-Baik Saja" Padahal Tidak
 
Satu di antara kebohongan putih yang paling sering diucapkan adalah "Saya baik-baik saja." Kita mengatakannya bahkan ketika sedang merasa sedih, marah, atau kecewa. Hal ini dilakukan untuk menghindari drama atau percakapan yang tidak diinginkan. Kita ingin terlihat kuat dan tidak membebani orang lain dengan masalah pribadi.
 
2. Memuji Masakan yang Tidak Enak
 
Pernahkah Anda memuji masakan teman atau keluarga padahal rasanya kurang enak? Kebohongan ini sering diucapkan untuk menjaga perasaan orang lain. Kita tidak ingin menyakiti hati mereka yang telah bersusah payah memasak. Pujian ini adalah bentuk sopan santun dan penghargaan sosial.
 
3. Berkata "Saya Akan Menghubungi Anda" Tapi Tidak Pernah Dilakukan
 
"Saya akan menghubungi Anda" adalah janji palsu yang sering kita lontarkan. Kita mengatakannya untuk mengakhiri percakapan dengan sopan. Namun, seringkali kita tidak benar-benar berniat untuk menghubungi orang tersebut. Ini adalah cara mudah untuk menghindari penolakan atau konflik langsung.
 
4. Mengatakan "Senang Bertemu dengan Anda"
 
Ketika bertemu orang baru, kita sering mengatakan "Senang bertemu dengan Anda." Namun, kejujuran dari ucapan ini patut dipertanyakan dalam beberapa situasi. Terkadang, kita mengatakannya hanya sebagai formalitas sosial. Kita ingin menciptakan kesan positif dan ramah, meskipun tidak selalu merasakannya.
 
5. Berbohong Tentang Alasan Terlambat
 
Terlambat adalah hal manusiawi, tetapi kita jarang jujur tentang alasannya. Kita sering membuat alasan yang terdengar lebih baik daripada kenyataan. Kebohongan ini bertujuan untuk menghindari hukuman atau penilaian negatif. Kita ingin menjaga citra diri yang bertanggung jawab dan dapat diandalkan.
 
6. Menjawab "Ya, Saya Sudah Baca Syarat dan Ketentuan"
 
Siapa yang benar-benar membaca semua syarat dan ketentuan sebelum menyetujuinya? Hampir semua orang berbohong tentang hal ini. Kita terlalu malas atau tidak punya waktu untuk membaca dokumen panjang dan membosankan. Kebohongan ini menunjukkan kecenderungan kita untuk mengambil jalan pintas.
 
7. Berkata "Saya Sedang di Jalan" Padahal Baru Selesai Bersiap-siap
 
Ketika seseorang bertanya di mana kita berada, seringkali kita menjawab "Saya sedang di jalan." Padahal, mungkin kita masih di rumah dan baru selesai bersiap-siap. Kebohongan ini adalah cara untuk menunda atau menghindari tekanan. Kita ingin memberi kesan bahwa kita tepat waktu dan efisien.
 
8. Mengatakan "Pasti Kita Harus Melakukan Ini Lagi Lain Waktu"
 
Setelah pertemuan atau acara yang kurang menyenangkan, kita sering mengatakan "Pasti kita harus melakukan ini lagi lain waktu." Ini adalah kebohongan putih untuk mengakhiri interaksi dengan baik. Kita ingin menjaga hubungan baik dan menghindari kesan tidak sopan. Namun, dalam hati, kita mungkin tidak benar-benar ingin bertemu lagi.
 
 
9. Memuji Penampilan Seseorang
 
Memuji penampilan seseorang, bahkan jika tidak sepenuhnya jujur, adalah hal yang umum. Kita mengatakan "Kamu terlihat hebat!" atau "Saya suka rambut barumu!" Kebohongan ini bertujuan untuk membuat orang lain merasa lebih baik. Kita ingin memberikan dukungan emosional dan meningkatkan kepercayaan diri mereka. dikutip dari Geediting.com Kamis (13/3),
 
Kebohongan putih adalah bagian tak terpisahkan dari interaksi sosial. Meskipun tidak selalu jujur, kebohongan ini sering kali memiliki tujuan baik. Psikologi memahami bahwa kebohongan putih membantu menjaga harmoni sosial dan menghindari konflik. Namun, penting untuk tetap jujur pada diri sendiri dan mempertimbangkan dampak jangka panjang dari kebohongan, bahkan yang putih sekalipun.
 

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore