Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 29 Juni 2026 | 13.01 WIB

Memburu Gembong Kakap: Jejak Fredy Pratama dan Pelucutan Jaringan Gelap Narkoba

Kaki tangan gembong narkoba Fredy Pratama bernama Frans Antony ditangkap di Malaysia. (Istimewa) - Image

Kaki tangan gembong narkoba Fredy Pratama bernama Frans Antony ditangkap di Malaysia. (Istimewa)

JawaPos.com - Eksekusi mati Freddy Budiman di Nusakambangan 10 tahun lalu memang menutup lembar cerita gembong narkoba yang berkelindan dengan pelanggaran hukum oleh sejumlah aparat. Namun, itu bukan akhir perburuan pemain besar dalam jejaring peredaran gelap narkoba. Nama Fredy Pratama kini berada dalam berkas paling atas sebagai buron kakap.

Sejak masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) pada 2014 silam, polisi belum berhasil menangkap Fredy Pratama. Pelariannya ke luar negeri menjadi pengganjal. Konon dia berada dalam perlindungan kartel. Aparat penegak hukum yang memiliki tanggung jawab pemberantasan narkoba sampai akar seperti Polri dan Badan Narkotika Nasional (BNN) beberapa kali menyebut Fredy berada di Thailand.

Namun kepastian atas informasi perlu dibarengi langkah konkret: menangkap dan memulangkan pria bernama lain Miming tersebut. Masalahnya, meski sudah menjadi buron internasional dan diburu oleh beberapa negara tersebut terus beroperasi. Dari luar negeri, dia memasok barang haram ke berbagai negara, termasuk diantaranya Indonesia.

Penangkapan keluarga, kerabat, anak buah, dan jejaringnya mengkonfirmasi bahwa Fredy masih memainkan peran sentral dalam bisnis gelap yang dia jalankan selama bertahun-tahun. Belum lama ini, Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri berhasil menangkap salah satu orang penting dalam jejaring tersebut. Dia adalah Frans Antoni.

Frans Antoni bukanlah pelaku biasa, melainkan pengendali keuangan, pengendali lapangan, dan pengendali operasional dari sindikat narkotika pimpinan Fredy Pratama,” kata Direktur Tindak Pidana Narkoba (Dirtipidnarkoba) Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko kepada awak media di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan (Jaksel) baru-baru ini.

Bersama Fredy, Frans Antoni mengendalikan peredaran narkoba di beberapa kota besar di Indonesia sejak 2009 silam. Mulai kota-kota besar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, sampai Sulawesi. Meski Fredy sudah kabur ke luar negeri, jejaringnya masih eksis. Salah satunya karena keberadaan Frans Antoni. Dia disebut sudah berkawan lama dengan Fredy.

Melibatkan Adik dan Istri, Frans Antoni Jadi Agen Ganda Fredy Prtama 

Dalam jaringan yang dibangun oleh salah seorang penguasa Golden Triangle atau Segitiga Emas jalur distribusi narkoba di Asia Tenggara tersebut, Frans memegang peranan sebagai agen ganda. Keseluruhannya vital. Seperti disampaikan oleh Brigjen Eko, Frans bergerak dalam organisasi, mengurus uang, dan mengendalikan peredaran di lapangan.

Tidak heran catatannya sangat panjang. Sebanyak 168 kali bolak-balik Indonesia-Thailand dalam kurun waktu 2017-2023. Selama 6 tahun dia mengangkut sendiri uang milik Fredy dari hasil bisnis haram di Indonesia ke Thailand. Dalam sekali angkut, minimal dia membawa Rp 1 miliar. Bila dirata-rata, maka minimal Rp 168 miliar dibawa oleh Frans untuk diserahkan kepada Fredy.

Untuk memuluskan jalannya, Frans tidak bekerja sendiri. Dia mengajak adiknya, Steven Antoni. Nama Steven digunakan untuk membuat rekening penampungan uang. Uang-uang itu diperoleh dari seorang bernama Kosnadi Irwan alias Uncle. Total lebih dari SGD 1,2 juta diterima Frans dari Uncle. Ya, setiap kali mengantarkan uang untuk Fredy, pecahan rupiah ditukar lebih dulu menjadi Dollar Singapura.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore