
Terdakwa kasus dugaan korupsi dalam digitalisasi pendidikan pengadaan laptop Chromebook Nadiem Makarim mengikuti sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (19/1/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook yang menjerat mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim kembali memicu perdebatan luas. Sebagian pihak menilai perkara ini bukan sekadar persoalan hukum, melainkan cerminan bagaimana kebijakan publik berpotensi ditarik secara paksa ke ranah pidana.
Mantan menteri BUMN Laksamana Sukardi menilai fenomena ini sebagai gejala penurunan standar dalam penegakan hukum. Standar pembuktian hukum mengalami penurunan.
"Kasus dengan konstruksi lemah tetap diajukan, karena probabilitas kemenangan mendekati kepastian. Ini bukan lagi penegakan hukum, ini produksi vonis," kata Laksamana Sukardi dalam keterangan tertulis, Minggu (26/4).
Menurutnya, persoalan mendasar dalam banyak kasus korupsi terletak pada cara negara membangun dalil kerugian. Ia menjelaskan, pendekatan yang digunakan sering kali tidak berbasis metodologi ekonomi yang kuat, melainkan sekadar asumsi yang dipaksakan untuk memenuhi unsur pidana.
“Lebih problematik lagi adalah konstruksi ‘kerugian negara’ yang sering dijadikan jantung perkara. Dalam banyak kasus, angka kerugian tidak lahir dari metode akuntansi yang dapat dipertanggungjawabkan, melainkan dari asumsi yang dipaksakan. Logika ekonomi diabaikan, prinsip acceptable accounting practices ditabrak, dan rasionalitas dikorbankan demi satu tujuan, memastikan bahwa seseorang dapat dipidana,” ujar Laksamana.
Ia menambahkan, dalam praktiknya penanganan perkara kerap berjalan dengan pola terbalik. Proses hukum didahulukan, sementara dasar perhitungan kerugian justru menyusul kemudian untuk memperkuat tuduhan.
“Sehingga, yang sering terjadi adalah pola terbalik: penjara dulu, hitung kerugian negara belakangan,” bebernya.
Fenomena ini terlihat jelas dalam sejumlah kasus yang menimpa tokoh publik dan pejabat, termasuk Nadiem Makarim. Ia menyebut pola serupa juga terjadi pada beberapa nama lain yang kebijakannya dipersoalkan secara pidana.
“Di titik inilah kita melihat bagaimana kriminalisasi kebijakan dan keputusan bisnis terjadi secara vulgar. Kasus yang menimpa Nadiem Makarim, Ibrahim Arif, Tom Lembong, dan Ira Puspadewi menunjukkan pola yang sama, keputusan kebijakan atau bisnis yang diambil dalam situasi kompleks ditarik ke ranah pidana korupsi dengan logika hasil, bukan niat,” jelasnya.
Ia menilai, kondisi ini berbahaya karena mengaburkan batas antara kebijakan publik dan tindak kejahatan. Dalam pandangannya, hukum seharusnya mampu membedakan keduanya secara tegas.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022