
KPK pamerkan barang bukti uang Rp 1 miliar dari OTT KPP Madya Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (5/2). (Muhamad Ridwan/JawaPos.com)
JawaPos.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan kronologi operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Banjarmasin, Mulyono (MLY), terkait dugaan suap pengurusan restitusi pajak.
Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, menjelaskan perkara ini bermula dari permohonan restitusi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang diajukan PT Buana Karya Bhakti (BKB) untuk tahun pajak 2024 dengan status lebih bayar.
“Pada tahun 2024, PT BKB mengajukan permohonan restitusi PPN dengan status lebih bayar kepada KPP Madya Banjarmasin,” kata Asep Guntur Rahayu dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (5/2).
Permohonan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan oleh tim dari KPP Madya Banjarmasin yang salah satunya beranggotakan Dian Jaya Demega (DJD). Dari hasil pemeriksaan, ditemukan nilai lebih bayar sebesar Rp 49,47 miliar dengan koreksi fiskal Rp 1,14 miliar.
“Sehingga nilai restitusi pajak yang disetujui menjadi sebesar Rp 48,3 miliar,” ujar Asep.
Asep mengungkapkan, pada November 2025, Mulyono selaku Kepala KPP Madya Banjarmasin melakukan pertemuan dengan pihak PT BKB.
“MLY bertemu dengan Sdr. VNZ selaku Manajer Keuangan PT BKB dan Sdr. ISY selaku Direktur Utama PT BKB,” ucapnya.
Dalam pertemuan lanjutan, Asep menyebut Mulyono menyinggung adanya permintaan imbalan. Mulyono menyampaikan kepada Venasius Jenarus Genggor (VNZ) selaku Manajer Keuangan PT BKB bahwa permohonan restitusi dapat dikabulkan dengan menyinggung adanya ‘uang apresiasi’.
Permintaan tersebut kemudian disepakati oleh pihak PT BKB melalui Venasius Jenarus Genggor, menyepakati permintaan tersebut dengan besaran Rp 1,5 miliar kepada Mulyono sebagai ‘uang apresiasi’. Namun, dengan adanya uang ‘sharing’ untuk Venasius Jenarus Genggor.
Pada Desember 2025, KPP Madya Banjarmasin menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) dan Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak (SKPKPP). Dengan nilai restitusi yang disetujui sebesar Rp 48,3 miliar.
"Restitusi tersebut kemudian dicairkan ke rekening PT BKB pada 22 Januari 2026," beber Asep.
Setelah pencairan, praktik pembagian uang apresiasi pun dilakukan. Disepakati pembagian uang untuk Mulyono sebesar Rp 800 juta, Dian Jaya Demega Rp 200 juta dan Venasius Jenarus Genggor Rp 500 juta.
Ia menambahkan, uang kepada Mulyono diserahkan dalam kardus di area parkir hotel dan digunakan antara lain untuk pembayaran uang muka rumah sebesar Rp 300 juta, sementara sisanya masih disimpan.
Sementara, Dian Jaya Demega yang seharusnya menerima uang senilai Rp 200 juta, namun Venasius meminta bagian sebesar 10 persen atau Rp 20 juta.
"Sehingga DJD menerima bersih sebesar Rp 180 juta," ungkapnya.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
