
Reog. (Nur Chamim/ Jawa Pos Radar Semarang)
JawaPos.com - Reog sebetulnya bukan hanya ikon Ponorogo, tetapi juga tradisi megah yang telah hidup ratusan tahun dan menjadi identitas masyarakat Jawa Timur. Di balik gemerlap pertunjukannya, Reog menyimpan sejarah panjang, filosofi mendalam, dan ekosistem seni yang menghidupi ribuan orang.
Ironisnya, warisan budaya sebesar ini sekarang justru terseret dalam dugaan korupsi pembangunan museum yang semestinya menjadi ruang pelestarian.
Reog telah menggerakkan perekonomian daerah dengan omzet miliaran rupiah setiap tahun. Dikutip dari laman resmi pemerintah Kabupaten Ponorogo, lebih dari 270 seniman kriya terlibat, dan ekosistemnya terus berputar dari generasi ke generasi.
Bahkan pada 3 Desember 2024, Reog Ponorogo resmi masuk daftar Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO, memperkuat posisinya sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang diakui dunia.
Namun kini, sorotan publik tertuju pada kasus dugaan aliran dana haram pembangunan Museum Reog yang diduga menyeret Bupati Ponorogo nonaktif Sugiri Sancoko. Di tengah euforia pengakuan internasional, kabar dugaan korupsi ini justru mencoreng upaya pelestarian warisan budaya berusia dua abad tersebut.
Lantas, bagaimana sejarah dan kekayaan seni reog ini sendiri? Mari kita bahas.
Asal-Usul Kesenian Reog: Tiga Versi Cerita yang Mengakar Kuat
1. Kisah Sindiran Ki Ageng Kutu
Salah satu versi paling populer menyebut Reog lahir dari kritik halus Ki Ageng Ketut Suryo Alam terhadap keruntuhan Majapahit di masa Prabu Brawijaya V. Sang raja dinilai terlalu tunduk pada permaisurinya sehingga kerajaan kehilangan wibawa. Alih-alih memberontak secara frontal, Ki Ageng Kutu memilih menuangkan kegelisahannya lewat kesenian.
Setiap karakter Reog mengandung simbol. Warok menjadi figur tetua yang dihormati, Singo Barong melambangkan raja yang angkuh, jathilan mewakili lunturnya semangat keprajuritan, dan Bujang Ganong menggambarkan sosok bijak yang tak dihargai.
Selepas Ki Ageng Kutu wafat, kesenian ini diteruskan Ki Ageng Mirah dan kemudian berkembang menjadi kisah Panji, menambah lapisan cerita tentang perang Kediri dan Bantarangin.
Versi ini menggarisbawahi bahwa Reog bukan sekadar tontonan, tetapi sebuah kritik sosial dan refleksi perjalanan sejarah Majapahit.
2. Reog Era Bathoro Katong
Versi kedua menautkan Reog pada masa awal berdirinya Ponorogo di bawah Raden Bathoro Katong. Pada periode ini, Reog disempurnakan menjadi kesenian lokal Ponorogo sekaligus media dakwah penyebaran Islam. Bagian paling ikonik, kepala harimau berhias ekor merak, ditambahkan untuk menguatkan filosofi dan estetika Reog.
Gamelan yang dulu dipakai Ki Ageng Kutu sebagai pengiring adu kesaktian kini berubah menjadi alat pemanggil masyarakat. Setelah warga berkumpul, Bathoro Katong menyampaikan ajaran Islam. Reog pun menjadi sarana komunikasi, media penyatuan masyarakat, dan simbol transisi budaya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Valencia vs Real Betis di Liga Spanyol: Tuan Rumah Kesulitan Menang!
Robot Humanoid Tiongkok Kalahkan Rekor Lari Usain Bolt, Lalu Terbakar
Prediksi Skor Bodo/Glimt vs NEC Nijmegen di Kualifikasi Liga Champions: Tuan Rumah Menang!
Prediksi Skor LASK Linz vs Celtic di Kualifikasi Liga Champions: Kans Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Sabah vs Hapoel Be'er Sheva di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027
Prediksi Skor Rapid Vienna vs Hearts: Tuan Rumah Terancam Tumbang di Liga Konferensi Eropa
Prediksi Skor Viking FK vs Dinamo Zagreb: Purgeri Diprediksi Menang Tipis di Norwegia!
Prediksi Skor AEK Athens vs Levski Sofia di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Tuan Rumah Menang!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
