
Pelaku kekerasan seksual dokter Priguna Anugerah Pratama. (Kejari Kota Bandung/Antara)
JawaPos.com - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mengapresiasi Pengadilan Negeri (PN) Bandung atas putusan terhadap Dokter Priguna Anugrah Pratama. Pelaku kekerasan seksual di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung itu tidak hanya divonis 11 tahun penjara, melainkan juga dihukum membayar restitusi kepada korban sebesar Rp1 37 juta.
Atas putusan tersebut, Wakil Ketua LPSK Sri Nurherwati menyatakan bahwa majelis hakim sudah berpihak pada pemulihan korban. Penerapan prinsip keadilan restoratif merujuk dalam Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) juga sudah berjalan. Karena itu, LPSK memberikan apresiasi.
”LPSK mengapresiasi majelis hakim yang telah mempertimbangkan hak-hak korban secara utuh, tidak hanya menjatuhkan hukuman pidana terhadap pelaku, tetapi juga mengakomodasi pemulihan korban melalui restitusi. Apresiasi kami berikan karena restitusi tetap dikabulkan meskipun korban sebelumnya telah menerima uang kerahiman,” ungkap dia melalui keterangan resmi kepada awak media pada Senin (10/11).
Menurut Nurherwati, majelis hakim PN Bandung sudah menegaskan posisi korban dalam sistem peradilan pidana sebagai subjek hukum yang memiliki hak atas pemulihan. Vonis yang diketok oleh para hakim tersebut menegaskan perhitungan restitusi LPSK penting dalam praktik penerapan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS).
LPSK berpandangan bahwa restitusi adalah gambaran konkret atas kerugian yang dialami korban akibat tindak pidana. Untuk itu, restitusi menjadi bentuk tanggung jawab pelaku terhadap penderitaan korban, baik secara ekonomi, psikologis, maupun sosial. Berdasar penilaian LPSK, ada 3 orang korban yang mendapat restitusi dalam perkara tersebut.
Para korban terdiri atas FH yang mendapat restitusi sebesar Rp 79.429.000, NK sebesar Rp 49.810.000, dan FPA sebesar Rp 8.640.000. Total keseluruhan restitusi itu Rp 137.879.000. LPKS memastikan, restitusi untyk masing-masing korban memiliki nilai kewajaran yang telah dihitung secara objektif sesuai dengan tingkat kerugian dan dampak psikologis yang dialami.
”Komponen restitusi itu meliputi 4 hal. Pertama ganti kerugian atas kehilangan kekayaan. Kedua, ganti kerugian atas penderitaan korban. Ketiga, ganti biaya perawatan medis atau psikologis. Keempat, biaya lain seperti transportasi dan kebutuhan selama proses hukum,” jelasnya.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
