Mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kiri) dan Lisa Mariana (kanan) berjalan keluar dari Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Kamis (7/8). (Nadia Putri Rahmani/Antara)
JawaPos.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga mantan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil menerima aliran uang nonbudgeter terkait dugaan korupsi pengadaan iklan di PT Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BJB). Dugaan ini muncul setelah tim penyidik KPK memeriksa Lisa Mariana dan Ilham Akbar Habibie.
Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu mengungkapkan pemeriksaan terhadap Lisa dan Ilham Habibie untuk menggali keterangan sebelum KPK memeriksa Ridwan Kamil.
"Kemudian terkait dengan penanganan perkara BJB, ada dua orang, saudara L dan saudara IH, sudah kita minta keterangan. Yang ditanyakan adalah kenapa saudara RK belum diriksanya," kata Asep Guntur di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa malam (9/9).
KPK menduga, mobil Mercedes Benz milik Ilham Akbar Habibie yang masih mengatasnamakan sang Ayah, Presiden ke-3 RI B.J. Habibie dibeli dari uang hasil korupsi BJB. Dugaan serupa juga berupa aliran uang yang diterima Lisa Mariana dari Ridwan Kamil.
"Jadi ada beberapa barang, kemudian juga uang itu sudah dipindahkan dalam bentuk barang. Seperti salah satunya dibelikan kepada mobil ya, mobil Mercy yang atas nama orang tua saudara IH ini. Kemudian juga diberikan kepada pihak-pihak lain," ungkap Asep.
Jenderal polisi bintang satu itu menyampaikan, sampai saat ini pihaknya masih mengumpulkan keterangan sebelum memeriksa Ridwan Kamil. Diduga, aliran korupsi BJB itu mengalir ke sejumlah pihak.
"Kita sedang mengonfirmasi dulu informasi terkait dengan sebaran uangnya. Sehingga ketika nanti kami memanggil saudara RK, kita akan konfirmasi satu-satu," paparnya.
Sebab, KPK menduga uang aliran korupsi BJB itu tidak hanya digunakan Ridwan Kamil membelikan mobil Mercy dari Ilham Habibie dan pemberian uang ke Lisa Mariana. Namun, KPK menduga aliran korupsi itu diterima berbagai pihak.
"Konfirmasi terkait dengan pembelian mobil, mobil Mercy, konfirmasi tentang uang yang diberikan kepada saudara L, konfirmasi terhadap uang yang diberikan kepada pihak-pihak yang lainnya," tegasnya.
Lebih lanjut, Asep menduga uang dugaan korupsi pengadaan iklan BJB bisa diterima Ridwan Kamil, saat dirinya masih menjabat sebagai Gubernur Jabar. Saat itu, Ridwan Kamil merupakan salah satu petinggi BJB.
"Bagaimana saudara RK bisa mendapatkan uang? Pada saat itu yang bersangkutan menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat. Bank Jabar ini itu salah satunya si komisaris dan direktur utamanya ini menyediakan uang untuk kegiatan-kegiatan non-budgeter. kegiatan-kegiatan yang salah satunya diminta oleh oknum pejabat di Provinsi Jawa Barat ini," imbuhnya.
Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan mantan Direktur Utama PT BPD Jawa Barat dan Banten alias Bank BJB, Yuddy Renaldi bersama empat orang lainnya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dana iklan.
Selain Yuddy Renaldi, KPK juga menetapkan Pimpinan Divisi Corsec BJB, Widi Hartoto. Serta tiga orang pihak agensi di antaranya ID, SUH dan SJK. Kasus dugaan korupsi dana iklan untuk penayangan di media TV, cetak, dan online itu diduga merugikan keuangan negara sebesar Rp 222 miliar.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
