Subadrian Nuka, kuasa hukum korban, mengatakan bahwa pengiriman surat permohonan itu agar pihak RSAB Harapan Kita dapat memberikan penjelasan terhadap kasus yang menimpa kliennya.
"Hari ini kami Tim Hotman 911 mendampingi klien kami ibu Chintia, secara resmi mengirimkan surat permohonan klarifikasi ke RS Anak Bunda Harapan Kita untuk meminta klarifikasi terkait rumor yang beredar saat ini," ujarnya kepada wartawan, Jumat (18/8).
Karena dengan adanya surat permohonan klarifikasi itu, Nuka berharap dapat bertemu secara langsung dengan Direktur Utama RSAB Harapan Kita dan membicarakan soal penanganan bayi yang sempat kritis tersebut.
"Harapannya Direktur RSAB bisa menerima klarifikasi kami dan bisa memfasilitasi kami untuk menyelesaikan permasalahan ini agar bayi Nala bisa pulih dan bisa segera sembuh dan pulang kembali," tegasnya.
"Kami tunggu aja. Pokoknya kami tunggu 5x24 jam terhitung hari ini kami minta klarifikasi," tandas Nuka.
Sebelumnya, seorang bayi bernama Lanala Ayudisa Halim yang masih berumur dua bulan harus mendekam di ruangan ICU Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita dalam kondisi kritis. Hal itu diduga lantaran kelalaian pihak perawat rumah sakit tersebut.
Chintia Suciati, 29, ibu dari bayi tersebut mengatakan bahwa hal itu bermula saat anaknya lahir dalam keadaan sudah didiagnosis mengidap penyakit ileostomi dan kelainan hati di Rumah Sakit Pelni pada 13 Juni lalu.
Setelah itu, selang sebulan, tanggal 12 Juli, bayi yang akrab dipanggil Nala tersebut mesti dirujuk ke RSAB Harapan Kita lantaran kelainan hati yang dideritanya. Pasalnya, bayi itu harus dirujuk ke Poli Gastro.
Dalam perawatan di poli itu, Chintia mengatakan bahwa anaknya sempat mengalami perbaikan dari segi berat badan karena melibatkan beberapa dokter. Salah satunya adalah dengan mengonsumsi susu yang tepat untuk Nala, yaitu susu Nutribaby Royal Pepti Junior.
"Dari susu Pepti Junior itu perlahan-lahan dia naik berat badannya. Bahkan rekor pertama Nala di angka 2,165 kilogram," kata Chintia saat ditemui wartawan di kediamannya di Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (16/8).
Chintia mengaku senang tiada kepalang saat menemukan perbaikan kondisi anak perempuan pertamanya itu. Namun, itu tak berselang lama. Sebab, pada Senin, 7 Agustus lalu, seorang perawat tiba-tiba memberikan susu dengan jenis lain.
Chintia mengaku sempat bertanya kepada perawat yang memberikan susu dengan jenis berbeda, namun perawat itu menyatakan bahwa itu adalah susu dengan jenis yang sama.
"Terus akhirnya mereka membantah, ya udah saya pikir ini Pepti Junior merek lain. Saya masih positif thinking," ungkapnya.
Namun, yang terjadi keesokan harinya justru terbalik. Seorang pegawai lain di RS Harapan Kita mendatanginya dan meminta maaf lantaran susu yang diberikan kemarin kepada anaknya salah.