Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 September 2022 | 18.01 WIB

Penjual Es di Madiun Jual Kanal Telegram ke Bjorka Rp 1,5 Juta

BINGUNG: Suasana di rumah orang tua M Agung Hidayatullah di Banjarsari Kulon, Kabupaten Madiun, kemarin. (JAWA POS RADAR MADIUN) - Image

BINGUNG: Suasana di rumah orang tua M Agung Hidayatullah di Banjarsari Kulon, Kabupaten Madiun, kemarin. (JAWA POS RADAR MADIUN)

Kejar hingga ke Luar Negeri, Polri Gandeng Interpol dan FBI

JawaPos.com – Bjorka rupanya cukup cerdik menutupi jejak digitalnya. Hacker yang diduga berasal dari luar negeri itu memanfaatkan jasa orang lain untuk menghindari pantauan polisi. Mohamad Agung Hidayatulloh, 21, adalah salah seorang korbannya. Gara-gara menjual kanal Telegram kepada Bjorka, Agung kini ditetapkan sebagai tersangka.

Kepada Jawa Pos Radar Madiun, Agung menceritakan keterlibatannya dengan Bjorka. Pemuda asal Desa Banjarsari Kulon, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, itu mengakui telah menjual kanal Telegram dengan nama Bjorkanism. Oleh Bjorka, kanal tersebut dibeli USD 100. Saat dibeli, kanal Telegram itu memiliki sekitar 60 ribu pengikut. Agung mengakui sempat bergabung dengan grup kanal privat Telegram dengan admin Bjorka. ”Jadi, di grup itu Bjorka membuat pengumuman yang punya kanal Bjorkanism untuk DM (direct message, Red) personal, akan dibeli 100 dolar,” kata Agung kemarin (18/9).

Setelah DM, lanjut Agung, Bjorka meminta akun e-wallet miliknya untuk keperluan transaksi dengan mata uang digital bitcoin. Agung lantas menyetujuinya. ”Sudah saya cairkan, totalnya sekitar Rp 1,5 juta,” ucap pemuda yang kesehariannya berjualan minuman segar di Pasar Pintu, Dagangan, itu.

Agung juga mengakui sempat tiga kali membagikan kiriman dari akun privat Telegram Bjorka ke kanal Bjorkanism miliknya. Yakni ”Stop being idiot”, ”The next leaks will come from the President of Indonesian”, dan ”To support people who are struggling by holding demonstration in Indonesia regarding the price fuel oil. I will publish MyPertamina database soon”.

”Setelah kanal terjual, saya bilang ke Bjorka tidak akan posting lagi di situ,” ujarnya. Agung mengakui sempat tertarik dengan sepak terjang Bjorka. Singkat cerita, setelah mendapatkan link grup privat Telegram Bjorka, dia langsung mem-follow. ”Saya lantas iseng bikin kanal di Telegram dengan tujuan kalau subscriber-nya banyak akan saya jual. Ternyata yang gabung sampai 60 ribu,” ungkapnya. ”Tapi, saya tidak kenal siapa itu Bjorka,” imbuhnya.

Agung menjelaskan, handphone (HP) yang dipakai membuat akun kanal itu sekitar seminggu lalu dibeli orang misterius seharga Rp 5 juta. Padahal, kondisi aplikasi WhatsApp di HP tersebut sedang error. ”Katanya ingin mengamankan data di dalamnya. Ya sudah, saya lepas,” ungkapnya.

Agung membenarkan bahwa dirinya ditetapkan sebagai tersangka. Kendati demikian, dia senang karena hanya dikenai wajib lapor ke Polres Madiun dua kali dalam seminggu. ”Senang sudah boleh pulang,” ucapnya. ”Tapi menyesal juga telah bikin akun (untuk dijual ke Bjorka, Red) seperti itu,” imbuhnya.

Pada bagian lain, upaya untuk menangkap Bjorka terus dilakukan. Yang terbaru, Polri berkoordinasi dengan Interpol dan Federal Bureau of Investigation (FBI). Koordinasi dilakukan karena Bjorka diduga berada di luar negeri. Meski demikian, dia membangun jaringan penyuplai data di Indonesia.

Sumber Jawa Pos mengungkapkan, Bjorka memiliki jaringan khusus di Indonesia. Beberapa di antaranya telah teridentifikasi. Jumlahnya bukan 14 suspect seperti sebelumnya. ”Jaringan ini menyuplai data ke Bjorka,” ujarnya. Bahkan, Bjorka tidak perlu melakukan peretasan untuk mendapatkan data tersebut. Dia hanya membeli master data secara murah dari jaringan di Indonesia. ”Setelah mendapat data, lalu dijual kembali oleh Bjorka,” jelasnya.

Nah, dengan berbagai alasan, Bjorka sering iseng mengerjai sejumlah pejabat di Indonesia. Hal itu bisa jadi karena jiwa sosialnya yang tinggi atau malah niat untuk meningkatkan harga data yang dijualnya. ”Kan bisa digunakan untuk meyakinkan calon pembeli,” imbuhnya.

Kini petugas yang mengetahui kasus tersebut memastikan bahwa Polri telah berkoordinasi dengan Interpol pusat di Lyon dan FBI. Koordinasi itu dilakukan untuk bisa menangkap Bjorka. ”Sedang koordinasi,” tegasnya.

Sementara itu, pakar penyadapan dan keamanan siber Pratama D. Persadha menjelaskan, prinsipnya, dalam penangkapan Bjorka, jangan percaya terhadap akun-akun anonim yang tidak jelas kredibilitasnya. Aparat harus percaya diri karena memiliki pengalaman menangkap Triomacan2000, peretas Tiket.com dan situs KPU. ”Kemampuan tracking di dunia siber bukan hal baru,” ujarnya.

Meski begitu, Bjorka ini akun anonim yang mengaku dari luar negeri. Memang bisa dilakukan tracking. Namun, kalau Bjorka kemampuannya jago, tentu akan sulit. ”Meski bukan hal yang tidak mungkin,” tutur Pratama.

Perlu dipahami, tracking itu bukan hanya secara teknis. Namun juga mencari informasinya dari jejaring hacker. ”Cari informasinya dari komunitas internet dan hacker,” ucapnya.

Bahkan, mungkin diperlukan pendekatan intelijen. Bagaimana informasi didapatkan secara offline dari komunitas intelijen atau sumber lainnya yang valid. ”Kalau di luar negeri, identitas setidaknya diungkap. Tapi, bila di dalam negeri, syukur-syukur ditangkap karena telah melanggar UU ITE dan UU Kependudukan,” ujarnya.

Pratama menambahkan, pemerintah perlu mengambil hikmah dari kejadian hacker Bjorka. Bahwa negara harus benar-benar menaruh perhatian terhadap keamanan siber. ”Apakah anggaran besar untuk keamanan siber ini sudah efektif atau tidak? Perlu evaluasi serius,” tegasnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore