
Mantan Menteri ESDM Sudirman Said usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Gedung Bundar Kejagung, Jakarta, Senin (19/1). (Istimewa)
JawaPos.com – Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menegaskan bahwa pemberantasan mafia minyak dan gas (migas) tidak akan pernah tuntas tanpa komitmen politik yang penuh dan konsisten dari pimpinan tertinggi negara.
Hal tersebut disampaikan Sudirman usai memenuhi panggilan Kejaksaan Agung (Kejagung) sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi minyak mentah dan produk kilang di Pertamina Energy Trading Limited (Petral)/Pertamina Energy Service Pte Ltd (PES) periode 2009–2015.
Sudirman mengatakan, kehadirannya di Kejagung merupakan bentuk tanggung jawabnya sebagai warga negara untuk membantu aparat penegak hukum mengungkap persoalan lama di sektor migas.
“Dua kali saya mendapat amanah negara untuk membereskan sektor energi. Pertama sebagai Senior Vice President Kepala Integrated Supply Chain Pertamina pada 2008–2009, dan kedua sebagai Menteri ESDM pada 2014–2016,” kata Sudirman di Gedung Bundar Kejagung, Jakarta, Senin (19/1).
Namun, kedua upaya tersebut terhenti sebelum tuntas bukan karena keterbatasan perangkat teknis atau sumber daya manusia, melainkan karena lemahnya kemauan politik.
“Keduanya terhenti bukan karena kekurangan alat atau orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh, tetapi karena political will yang setengah hati,” tegasnya.
Ia menilai kondisi tersebut menyebabkan praktik yang selama ini dikenal sebagai “mafia migas” terus berulang. Pola dan boleh berganti, tetapi akar persoalan tidak pernah disentuh secara serius dan menyeluruh.
Sudirman juga mengungkapkan, persoalan mafia migas telah ia sampaikan langsung kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada 26 Oktober 2014, tidak lama setelah dilantik sebagai Menteri ESDM. Saat itu, ia menegaskan bahwa pemberantasan mafia migas bukan semata persoalan teknis tata kelola.
“Pemberesan mafia migas adalah soal kelurusan arah kepemimpinan negara,” bebernya.
Ia menambahkan, jika komitmen politik kuat, maka jalan keluar selalu ada. Sebaliknya, jika terdapat keraguan di tingkat pengambil keputusan, kebijakan sebaik apa pun hanya akan berhenti di meja rapat.
Sudirman berharap, proses hukum yang kini ditangani Kejaksaan Agung dapat menjadi momentum untuk menyelesaikan persoalan migas secara menyeluruh dan langsung dikomandoi Presiden Prabowo Subianto, bukan sekadar penanganan kasus per kasus.
“Ayo, Pak Presiden. Kali ini jangan setengah hati. Rakyat tidak sedang menunggu janji, tetapi bukti,” pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
