Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 November 2025 | 17.15 WIB

Viral Dugaan Kekerasan Bocah SD di Palembang: Pulang Sekolah Pembuluh Darah di Mata Pecah

Tangkapan layar viral bocah SD di Palembang diduga alami kekerasan di sekolah. (Instagram/@oypalembang). - Image

Tangkapan layar viral bocah SD di Palembang diduga alami kekerasan di sekolah. (Instagram/@oypalembang).

JawaPos.com - Kasus dugaan kekerasan di lingkungan sekolah dasar kembali mencuat dan mengundang kemarahan publik. Kali ini, seorang bocah perempuan berinisial F, siswi SD Negeri 150 Sungai Tenang, Gandus, Palembang, pulang sekolah dengan kedua mata merah dan lebam, diduga akibat penganiayaan di sekolahnya sendiri.

Kasus ini menambah daftar panjang kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan, tempat yang seharusnya menjadi ruang aman dan mendidik. Fenomena serupa kerap berulang: anak menjadi korban, orang tua kebingungan mencari keadilan, dan pihak sekolah memilih bungkam atau defensif.

Kisah memilukan ini berawal saat Bi Erna, ibu kandung F, menjemput anaknya dari sekolah pada akhir Oktober 2025. Ia kaget bukan main ketika melihat mata anaknya merah seperti berdarah, disertai lebam di sekitar kelopak mata.

“Saya lihat mata anak saya sudah merah dan bengkak. Saya langsung tanya ke gurunya, tapi jawabannya cuma, ‘bukan saya’, ada juga yang bilang ‘tidak tahu’, bahkan ada yang menyalahkan handphone,” kata Bi Erna dalam keterangan yang diunggah akun Instagram @oypalembang.

Namun alasan tersebut dianggap tak masuk akal. F dikenal jarang memegang ponsel. “Dia bukan anak yang suka main HP. Jadi saya tidak percaya kalau matanya merah karena itu,” lanjut Bi Erna.

Tak puas dengan jawaban pihak sekolah, Bi Erna berencana melaporkan kasus tersebut ke polisi. Namun, seorang guru justru mengancam balik.

“Ketika saya bilang mau lapor, ada guru yang bilang, ‘jangan asal tuduh, nanti kamu bisa dilaporin balik’,” ungkap Bi Erna.

Ketakutan dan minimnya bukti membuat Bi Erna sempat ragu melanjutkan langkah hukum. Apalagi, tak ada CCTV maupun saksi dari teman-teman sekelas F yang berani bersuara.

“Semua murid bilang tidak tahu,” tambahnya.

F kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bunda Palembang pada 28 Oktober 2025. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan pembuluh darah di sekitar matanya pecah, diduga akibat pukulan atau benturan benda tumpul.

Meski telah mendapat pengobatan, kondisi F belum membaik. “Setiap malam dia selalu mengeluh sakit dan menangis. Kalau ditanya siapa yang melukai, dia tidak mau bicara dan langsung ketakutan,” tutur ibunya.

Unggahan tentang kasus ini ramai diperbincangkan warganet setelah viral di media sosial. Bahkan Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, dikabarkan sudah menerima laporan langsung dari masyarakat terkait insiden tersebut. 

Dalam unggahan terpisah di akun yang sama, Ratu Dewa tampak memberi tanggapan atas kasus itu.

Kini, publik berharap pemerintah kota dan aparat penegak hukum turun tangan untuk mengusut tuntas dugaan kekerasan terhadap F, serta memastikan keamanan dan transparansi di lingkungan sekolah.

Sebagai gambaran juga, kasus F bukan yang pertama. Laporan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa sebagian besar kasus kekerasan terhadap anak justru terjadi di lingkungan pendidikan, baik oleh sesama siswa maupun oknum guru.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore