
KOLEKTIF: Kalibrug FC, klub sepak bola yang ikut diinisiasi pendiriannya oleh gitaris Sukatani Muhammad Syifa Al Lutfi. (NOIS ARE SIP UNTUK JAWA POS)
JawaPos.com - Sejumlah kalangan di Purbalingga, Jawa Tengah, tak tinggal diam ketika dua anak muda kreatif dari kampung halaman mereka, Muhammad Syifa AlLutfi dan Novi Citra Indiyati, diduga diintimidasi polisi. Pesan-pesan dukungan kepada kedua personel band Sukatani tersebut pun disampaikan lewat beragam cara.
Di antaranya lewat corat-coret di sejumlah fasilitas umum. Seperti dilaporkan Radar Banyumas, misalnya di tiga pos polisi serta di tembok Mapolres dan DPRD Purbalingga.
Seperti terlihat pada Jumat (21/2), sejumlah fasilitas umum tersebut dicoret tulisan menggunakan cat semprot. Di antaranya berbunyi, “Kami bersama Sukatani #merah”. Ada pula lambing anarki yang berupa huruf A dalam lingkaran, huruf M dalam lingkaran, serta tulisan “merah #Sukatani”.
Berdasarkan pantauan Radar Banyumas, coretan tersebut terlihat pada Jumat pagi hari, namun siang harinya sudah ditutup lagi menggunakan cat tembok. Kapolres Purbalingga AKBP Achmad Akbar ketika dikon firmasi terkait aksi tersebut enggan berkomentar.
Jangan Takut, Cipoy
Dukungan juga disuarakan Kaliburg FC, klub sepak bola kolektif di Purbalingga yang ikut dinisiasi pen diriannya oleh Syifa. Gitaris Sukatani itu juga aktif ikut bermain, bahkan di beberapa pertandingan menjadi kapten. Juga rutin mengisi acara musik yang dihelat klub yang berdiri pada 2023 tersebut.
Wawix, inisiator Kaliburg FC lainnya, mendukung penuh apa yang sudah disuarakan Sukatani. Baik lewat karya maupun movement-nya.
”Kalau dari saya pribadi, untuk Cipoy (sapaan akrab Syifa, Red), kami akan mendampingi kamu. Kamu tidak sendirian. Tidak perlu me rasa takut, ayo membangun mental lagi," ujarnya kepada Jawa Pos yang menghubunginya dari Surabaya kemarin (22/2).
Wawix menerangkan, para pendiri dan anggota Kalibrug FC yang berbasis street football sebagian besar meru pakan suporter tim lokal Purbalingga, Persebangga. Dari pengalaman menjadi pendukung itulah muncul keresahan terhadap ketidak terbukaaan manajemen dan berbagai hal lain.
Konsep awalnya tim sepak bola kolektif, bukan punk football seperti yang banyak disematkan pada Kalibrug FC. Mereka lantas mulai ber main dan melakukan pertandingan dengan tim-tim sepak bola kolektif lainnya di luar kota.
Wawix mengapresiasi dukungan besar berbagai pihak kepada Sukatani. ”Jujur saya terharu. Tidak menyangka dukungan berbagai pihak bakal sebesar itu," ujarnya. (rid/tya/ttg)

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
