Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 6 Januari 2025 | 22.56 WIB

Transaksi Nyaris Batal Karena Tak Ada STNK dan BPKB, Prajurit TNI AL Tetap Beli Honda Brio Sebelum Penembakan Bos Rental Mobil

Panglima Koarmada Laksamana Madya Denih Hendrata mengungkap penembakan bos rental mobil di Rest Area Kilometer 45 Jalan Tol Merak-Tangerang pada Senin (6/1). (Syahrul Yunizar/JawaPos.com)

JawaPos.com - Transaksi jual beli Honda Brio menjadi awal-mula peristiwa penembakan bos rental mobil terjadi pada Kamis (2/1). Tiga prajurit TNI AL membeli mobil tersebut dengan uang muka Rp 40 juta dari sindikat penggelapan mobil rental. Menurut Panglima Komando Armada Republik Indonesia (Koarmada RI) Laksamana Madya TNI Denih Hendrata, para prajurit itu sempat ingin membatalkan transaksi, namun mereka kena bujuk rayu sindikat tersebut. 

”Tadi kan bukti transfer DP (uang muka) Rp 40 juta. Dan itu di dalam pembelian itu kan awalnya dari online seharga Rp 135 juta. Karena penjual itu tidak bisa memberikan surat STNK dan BPKB, makanya perjanjiannya itu sebetulnya sudah mau cancel, nggak jadilah gitu. Tapi, bujuk rayu akhirnya dibawa juga,” terang Denih saat memberikan keterangan kepada awak media pada Senin (6/1). 

Berdasar pengakuan tiga prajurit TNI AL yang sudah ditahan oleh Pusat Polisi Militer Angkatan Laut (Puspomal), mereka bertindak sebagai pembeli. Mereka tidak mengetahui bahwa barang yang dijual merupakan mobil rental yang sudah digelapkan. Namun demikian, hal itu masih perlu didalami. Karena itu, Koarmada RI dan Puspomal bekerja sama dengan Polda Banten mendalami peristiwa tersebut secara utuh. 

”Ini mungkin salah satu yang bisa dikembangkan, karena kami dapat laporan tidak hanya sekedar ini. Pangkalnya apa sih, masalahnya itu kan. Pasti saya sebagai atasan mereka juga ingin mendalami, supaya saya bisa melihat ke dalam, ini prajurit ini melakukan apa dan tentu kita ada punya kewenangan melaksanakan penyidikan. Tanpa ada kerja sama, ini tentu tidak akan bisa diselesaikan di pengadilan nanti,” bebernya. 

Selain mengungkap peristiwa penembakan tersebut, Denih memastikan bahwa evaluasi juga dilakukan oleh TNI AL. Termasuk yang terkait dengan penggunaan senjata api. ”Ya, kami akan evaluasi,” imbuhnya. Dalam peristiwa itu, dia menyatakan bahwa salah seorang prajurit TNI AL membawa senjata api lantaran senjata tersebut termasuk salah satu inventaris melekat. Sehingga senjata itu tetap dibawa. 

”Untuk evaluasi nanti kami akan evaluasi. Bagaimana ke depan ini untuk memegang senjata api. Tapi sebetulnya karena pengeroyok juga kan tidak berpikir resiko kalau orang yang dikeroyok itu mati ya kan. Jadi, kembali lagi, apalagi mungkin karena tentara juga yang sudah dilatih bagaimana faktor kecepatan insting segala macam, dan kita sering dengar ada kill or to be killed ya kan,” jelas dia. 

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore