JawaPos.com-Kasus dugaan pencabulan sesama jenis yang melibatkan seorang dosen berinisial RL di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), semakin mengejutkan. Jumlah korban terus bertambah. Saat ini sudah 22 korban yang terdiri dari mahasiswa dan alumni telah melaporkan tindakan bejat tersebut kepada pihak kepolisian.
RL, yang diketahui mengajar di satu perguruan tinggi negeri dan dua kampus swasta di NTB. Dalam menjalankan aksinya, RL menggunakan berbagai modus untuk melancarkan aksinya. Kasus ini terungkap setelah salah satu korban memberanikan diri melapor ke Polda NTB. Laporan tersebut kemudian diikuti oleh sembilan korban lainnya.
Pendamping korban dari LSM Sasaka Nusantara Sabri menuturkan, pelaku menggunakan pendekatan manipulatif dalam mencari korban. Yakni dengan mengajak korban mengikuti berbagai diskusi ilmiah hingga metode pseudo-spiritual.
“Korban merasa tidak curiga karena dia mendekati pimpinan-pimpinan komunitas organisasi,” ungkap Sabri dikutip Kamis (2/1).
Pelaku memanfaatkan korban yang ingin bertobat atau hijrah dari masa lalu. Ia menawarkan konsep aneh yakni zikir zakar, yang disebutnya sebagai kombinasi kajian ilmiah dan spiritual.
Pelaku mengelabuhi korban dengan dalih Tuhan menciptakan alam semesta dalam keadaan berzikir, dan titik paling vital yang dapat digunakan sebagai pengingat Tuhan adalah kelamin atau zakar.
Pelaku kemudian melakukan pelecehan seksual dengan cara memegang kemaluan korban sambil berzikir.
“Modusnya banyak. Ada zikir zakar yang mengelaborasi kajian ilmiah dengan spritual. Zikir zakar dia sebut sebagai zikir alat kelamin,” ucap Sabri.
Tak hanya itu, pelaku juga menawarkan ritual mandi suci untuk membersihkan dosa, yang kemudian digunakan untuk melecehkan korban.
Banyak korban awalnya merasa janggal, tetapi tidak berani bersuara karena malu atau menganggap kejadian tersebut sebagai aib pribadi.
“Setelah satu korban berani speak up, ternyata korban lain juga mengaku kena. Karena satu (korban) berani buka, yang lain juga buka suara. Mereka awalnya malu karena merasa ini peristiwa yang dianggap aib," ucapnya.
Sabri menyebut, tindakan pelecehan yang dilakukan pelaku RL telah menyebabkan sejumlah korban mengalami penyimpangan seksual. Sejumlah korban mengaku menjadi penyuka sesama jenis.
"Paling parah sampai kemudian ada korban sudah tidak tertarik lagi dengan perempuan. Sampai ada yang sudah mengalami penyimpangan seksual,” katanya.
Perwakilan Koalisi Stop Kekerasan Seksual NTB Joko Jumadi mengungkapkan, jumlah korban terus bertambah. Awalnya hanya 10 orang melapor, kini total korban mencapai 22 orang, terdiri dari mahasiswa dan alumni.
“Sejauh ini tidak ada korban di bawah umur. Namun, tidak menutup kemungkinan jumlah korban sebenarnya lebih banyak,” kata Joko.
Polda NTB telah mengamankan RL dan memulai penyelidikan mendalam. Saat ini, pihak kepolisian masih mengumpulkan alat bukti tambahan dan memeriksa keterangan saksi.
"Kami butuh informasi sebanyak mungkin. Selain keterangan korban sebagai pelapor, (alat bukti lain) kami lagi dalami,” terang Direktur Reskrimum Polda NTB, Kombes Pol Syarif Hidayat, Selasa (31/12). (*)