Ilustrasi jenazah. (JawaPos)
JawaPos.com - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS) meminta pihak kepolisian bekerja transparan dalam menyelesaikan kasus tewasnya remaja Afif Maulana, 14, di Jembatan Kuranji, Kota Padang. Hal ini menyusul adanya dugaan telah terjadi kekerasan oleh aparat kepada korban.
"Kami juga mendesak agar proses perkembangan kasus harus terus diberikan kepada publik sebagai sebuah upaya dalam menghadirkan keadilan dan kebenaran bagi keluarga korban," kata Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya dalam keterangan tertulis, Senin (24/6).
KontraS juga meminta kepada Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) bertindak proaktif melakukan pengawasan, termasuk memanggil dan memeriksa Kapolda Sumatera Barat sesuai dengan kewenangan yang dimiliki berdasarkan Perpres Nomor 17 tahun 2011 tentang Komisi Kepolisian Nasional.
Selain itu, Komnas HAM juga harus turun tangan mendalami dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan aparat kepada anak di bawah umur. Guna memperlancar penyidikan, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) juga harus segera memberikan perlindungan terhadap keluarga korban serta saksi-saksi yang mampu membantu pengungkapan kasus ini.
"KPAI untuk berperan aktif dalam pengawasan terhadap pelaksanaan perlindungan dan pemenuhan terhadap hak anak termasuk memberikan perlindungan dari penyiksaan dan tindakan tidak manusiawi lainnya, serta melakukan pencegahan keberulangan peristiwa di masa yang akan datang," imbuh Dimas.
Sebelumnya, warga yang berada di kawasan Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, digegerkan dengan penemuan sesosok jasad remaja laki-laki, yang diperkirakan berusia 14 tahun, dalam kondisi mengambang di aliran sungai bawah jembatan Jalan Bypass Kilomenter 9, Minggu (9/6). Korban pun teridentifikasi sebagai Afif Maulana.
Kapolda Sumbar Irjen Pol Suharyono pada jumpa pers di Mapolresta Padang, Minggu (23/6) mengatakan, sudah ada 40 orang saksi diperiksa dan dimintai keterangannya. Dari 40 orang itu, terdapat 30 orang personel Sabhara Polda Sumbar.
“30 orang personel itu saat kejadian sedang mengamankan 18 orang pelajar yang diduga melakukan aksi tawuran di kawasan Kecamatan Kuranji tersebut,” katanya.
“Saya bertanggung jawab penuh akan kasus penemuan jasad Afif Maulana. Sampai saat sekarang kita masih mendalami kasus ini. Di hari yang sama itu, kita mengamankan 18 orang remaja yang diduga pelaku tawuran. Tidak ada yang namanya Afif Maulana,” tambahnya.
Ia mengungkapkan, saat pengamanan 18 orang itu, memang ada diamankan satu sepeda motor milik Afif Maulana, tapi yang mengendarai sepeda motor itu adalah temannya. Saat kejadian, ada salah satu personel mendengar bahwa temannya itu diajak Afif Maulana untuk terjun dari jembatan.
“Ketika kita amankan ada puluhan senjata tajam milik para pelaku tawuran. Semuanya kita bawa. 18 orang remaja yang kita amankan, 17 diantaranya diserahkan ke pihak orangtua, satu orang masih dilakukan penyelidikan,” ujarnya.