Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 22 Juli 2023 | 20.15 WIB

Psikolog hingga Sosiolog Buka Suara Soal 'Aktivitas Tak Wajar' Berujung Mutilasi Mahasiswa UMY

2 pelaku mutilasi Sleman ditangkap Polda DIJ dalam pelariannya di Bogor, Jawa Barat. (Radar Jogja) - Image

2 pelaku mutilasi Sleman ditangkap Polda DIJ dalam pelariannya di Bogor, Jawa Barat. (Radar Jogja)

JawaPos.com - Kasus mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bernama Redho Tri Agustian yang dibunuh dan kemudian dimutilasi memang sangat menyedihkan. Pelaku adalah Waliyin dan RD. Sejumlah potongan tubuh korban seperti pergelangan tangan dan kaki korban bahkan direbus oleh pelaku.

Yang menjadi perhatian banyak pihak adalah penyebab kedua pelaku sampai tega melakukan pembunuhan hingga memutilasi korban secara keji. Pihak kepolisian baru menyebut adanya 'aktivitas tak wajar' dilakukan ketiganya sebelum insiden pembunuhan terjadi.

Ahli psikologi forensik Reza Indragiri menduga kasus pembunuhan berujung mutilasi terjadi akibat adanya hubungan sesama jenis antara pelaku dengan korban. Keyakinan ini didapatinya setelah melakukan penelusuran di akun media sosialnya.

"Saya merasa tak nyaman melihat pose-posenya di IG. Di mata saya dia gay. Mungkin dia diperkosa sesama gay," kata Reza seperti dikutip Pojoksatu.id (Jawa Pos Group).

Lebih lanjut Reza Indragiri menyampaikan kesimpulannya itu bukanlah sebuah fakta karena baru sebatas analisis yang bisa jadi benar atau salah. Dia menyebut polisi perlu untuk membuat terang maksud dari pernyataan 'aktivitas tak wajar' yang sempat diungkap supaya tidak menimbulkan salah tafsir.

"Aktivitas tak wajar yang polisi katakan adalah perbuatan pidana atau aktivitas seksual menyimpang? Jika iya, penyimpangannya seperti apa?" kata Reza.

Sementara itu, Pakar Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Grendi Hendastomo, mengatakan ‘aktivitas tidak wajar’ sebagaimana diungkapkan pihak kepolisian tidak lantas disimpulkan sebagai adanya aksitivitas seksual menyimpang sesama jenis.

“Karena konteks ‘tidak wajar’ bisa bermacam-macam tafsir, dan kalau melihat dampaknya yang fatal bisa jadi ini karena kekerasan yang dilakukan,” kata Grendi saat dihubungi JawaPos.com pada Kamis (20/7).

Grendi mengatakan, kekerasan yang dilakukan korban dan pelaku bisa jadi merupakan tindakan self-harm (menyakiti diri sendiri) akibat adanya tekanan sosial. Menurutnya, tindakan ini bisa terjadi sehingga memicu munculnya kesepakatan di antara mereka untuk saling mentransfer rasa sakit atas tekanan sosial yang ada.

“Bisa jadi ada tekanan sosial karena lingkup pertemanan yang mendorong mereka bersama-sama melakukan itu,” katan Grendi.

Selain itu, Grendi juga menyoroti tindakan pelaku yang terbilang sadis membunuh korbannya hingga memutilasi. Menurutnya, tindakan sadis semacam ini bisa terjadi pada penyuka sesama jenis. Namun menurutnya, polisi perlu mengungkap secara detail apakah pelaku memang memiliki tabiat sadistik atau karena terdesak oleh keadaan.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore