
Waliyin (rambut dicat), pelaku mutilasi mahasiswa UMY, disebut memiliki 2 karakter berbeda.
JawaPos.com - Waliyin merupakan salah satu pelaku mutilasi terhadap mahasiswa UMY, Redho Tri Agustian. Baru dia pelaku yang diketahui namanya dan kini jadi pemberitaan dalam kasus mutilasi di Sleman tersebut. Berdasarkan kartu identitasnya, Waliyin tercatat sebagai warga Dusun Gatak, RT 002/RW 005, Desa Sukomulyo, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang.
Sementara itu, pelaku kedua baru diketahui inisialnya, yakni RD, berusia 38 tahun. RD sendiri tercatat sebagai warga DKI Jakarta. Tapi tidak diketahui jelas dimana tepatnya.
Seperti yang sudah diketahui, tidak banyak informasi terkait sosok Waliyin yang kos di Durun Krapyak, Kalurahan Triharjo, Sleman, tersebut. Pasalnya, tetangga kos dan warga sekitar mengenal pria tersebut sebagai sosok yang cukup tertutup. Dia juga dikenal warga jarang sekali bergaul atau jarang mengikuti kegiatan Dusun Krapyak. Bahkan, warga juga sangat jarang bertemu atau melihat Waliyin.
Sepengetahuan warga, pria itu berangkat bekerja saat pagi hari dan pulang malam hari. Warga mengistilahkan tempat kos itu hanya digunakan untuk beristirahat saja.
Akan tetapi, karakter Waliyin di tempat kos ternyata berbanding terbalik dengan karakter ketika di kampung kelahirannya. Sebab, warga mengenal pria itu sebagai sosok yang 180 derajat berbeda dengan penuturan warga Dusun Krapyak. Bisa disebut Waliyin memiliki 2 karakter berbeda bagai dua sisi mata uang.
Karakter waliyin yang misterius dan tertutup itu salah satunya diungkap tetangga kos, Reno. Reno sendiri mendiami kamar kos yang tepat bersebelahan dengan kamar kos yang dihuni salah satu pelaku mutilasi mahasiswa UMY itu. Reno mengungkap, Waliyin sudah indekos di tempat itu selama hampir 1 tahun, tepatnya sejak Agustus 2022 lalu.
Akan tetapi, sosok warga Megelang itu tidak banyak diketahui oleh tetangga dan warga setempat. Reno mengaku dirinya sangat jarang bertemu dengan pelaku sejak tinggal di tempat kos tersebut. Sepengetahuannya, pelaku sangat sibuk bekerja. Kalaupun bertemu dirinya hanya sekadar saling bertegus sapa saja. Kesehariannya berangkat kerja pada pagi hari, dan pulang kerja saat malam hari. Setelah itu, Waliyin langsung masuk dan menutup pintu kamar kosnya.
"Saya juga baru tahu kalau namanya Waliyin setelah kasus mutilasi ini ramai dan dia ditangkap polisi," ungkap Reno seperti dilansir Pojoksatu.id (Jawa Pos Group).
Reno juga mengungkap bahwa Waliyin bisa disebut sosok yang cukup tertutup. Sepengetahuannya, selama menyewa kamar, pelaku hidup seorang diri. Selama ini dia juga tidak pernah mendapati Waliyin melakukan hal yang aneh atau mencurigakan. Apalagi dirinya juga sangat jarang sekali bertemu dengan Waliyin. Sesekali bertemu, Waliyin selalu menunjukkan hal yang baik-baik saja.
Waliyin juga disebut Reno tidak seperti penghuni kamar kos lainnya yang kerap duduk di teras kos ketika pulang kerja atau saat libur. Padahal di setiap depan kamar kos itu terdapat kursi atau tempat yang bisa digunakan untuk sekadar nongkrong. Apalagi di kamar kos Waliyin terdapat pohon ceri yang cukup rindang dan sejuk.
"Duduk-duduk di sini (depan kos) saja enggak pernah," ungkap Reno.
Pendapat senada juga diungkap Ketua RT setempat, Ngatijo. Dia berujar, sepengetahuan warga dan dirinya, Waliyin selama ini bekerja sebagai karyawan sebuah restoran di Kaliurang. "Kesibukannya kerja (karyawan) di kuliner (restoran). Berangkat pagi pulang malam," beber Ngatijo.
Berdasarkan KTP, Waliyin tercatat sebagai warga Dusun Gatak, Desa Sukomulyo, Kecamatan Kajoran, Magelang. Sayangnya, Ngatijo juga tidak mengetahui cukup banyak tentang sosok yang cukup misterius itu. Apalagi, sejak tinggal di tempat kos itu, Waliyin juga tidak pernah menyetorkan kartu identitasnya atau melapor kepada dirinya.
Ngatijo membeberkan, Waliyin selama ini memang cukup tertutup. Dia juga sangat jarang bergaul dengan warga dan tetangga, serta ikut kegiatan warga Dusun Krapyak. Ngatijo juga tidak mengetahui persis apakah sosok misterius itu pernah membawa teman atau orang lain ke tempat kosnya atau tidak.
Sementara itu, perilaku dan karakter Waliyin teryata berbeda saat di kampung kelahirannya. Kepala Dusun setempat, Arif Masrur, mengaku cukup mengenal Waliyin sejak kecil hingga dewasa dan memutuskan merantau.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
