Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 26 Oktober 2019 | 19.48 WIB

Di Kampoeng Ikan Desa Kluncing, Ikan Dipelihara di Sawah dan Irigasi

HABITAT BARU: Warga panen ikan tombro di Sungai Luganti, Desa Kluncing, Kecamatan Licin. (Fredy Rizky/Jawa Pos Radar Banyuwangi) - Image

HABITAT BARU: Warga panen ikan tombro di Sungai Luganti, Desa Kluncing, Kecamatan Licin. (Fredy Rizky/Jawa Pos Radar Banyuwangi)

Setiap desa mulai mem-branding kawasan mereka. Desa Kluncing, Kecamatan Licin, salah satu di antaranya. Desa yang selama puluhan tahun memiliki budaya mina padi itu kini mengembangkan diri menjadi Kampoeng Ikan.

FREDY RIZKI, Banyuwangi

IKAN-ikan tombro gemuk berwarna hitam dan oranye berenang bebas di Sungai Luganti, Desa Kluncing, Kecamatan Licin. Selain yang berenang bebas, ada yang dirawat di keramba-keramba kayu yang berjejer di sepanjang sungai yang membelah area persawahan dan permukiman di desa tersebut.

Di sisi sawah, pemandangan yang sama terlihat. Ikan-ikan kecil berwarna-warni berenang mengitari sawah yang digenangi air. Dikelilingi jaring berwarna biru tua membuat ikan kecil yang hidup dari sawah itu aman dari gangguan binatang liar.

Delapan bulan terakhir masyarakat Kluncing mengemas tempat tinggal mereka menjadi Kampoeng Ikan. Hampir di setiap sudut desa yang bisa dihuni ikan air tawar, diisi dengan bermacam ikan. Mulai koi, tombro, nila, bawal, lele, dan patin.

Hasim Fikri, 51, salah seorang petani asal Desa Kluncing yang menerapkan efisiensi lahan sawah sebagai kolam ikan mengatakan, sebenarnya mina padi di desa tersebut ada sejak 1980-an. Dia meneruskan konsep tersebut dari orang tuanya yang juga menerapkan konsep mina padi.

Hanya, kala itu belum ada pemahaman bagaimana konsep pemasaran dan pemanfaatan ikan yang hidup di sekitar sawah tersebut. Karena itu, setiap panen, ikan-ikan tersebut hanya dikonsumsi pribadi. ’’Waktu itu masih bingung bagaimana menjualnya. Jadi ya dimakan sendiri. Kalau ada yang mau membeli, baru dijual,’’ ungkapnya.

Baru sekitar Januari 2019 beberapa anak muda mulai memprakarsai pemanfaatan beberapa lokasi di Desa Kluncing sebagai tempat budi daya ikan. Hasilnya, banyak sawah yang saat ini menerapkan mina padi. Bahkan, ikan-ikan yang diproduksi bersebelahan dengan tanaman padi itu ikut menopang perekonomian warga.

’’Sekarang sudah ada sekitar satu hektare lahan sawah yang ikut membudidayakan ikan. Alhamdulillah, hasil panen padi naik 15 persen, petani juga tidak butuh pupuk karena sudah disediakan ikan,’’ kata Ketua Kelompok Komunitas Pencinta Mina Padi (Kopimindi) Hambali, 34.

Sebelum sawah digunakan untuk kolam ikan, Hambali mengatakan diperlukan proses terlebih dahulu. Setelah padi ditanam, tanah di sawah harus dicangkuli terlebih dahulu agar cacing yang tinggal di dalam tanah keluar. Lokasi ikan sendiri tak langsung dicampur di dalam sawah, tapi ditempatkan di satu titik hingga ikan-ikan terbiasa dengan suhu air sawah. Baru setelah itu sekat dibuka dan ikan bebas berkeliaran di antara sela-sela padi.

’’Masa panen ikan ini rata-rata enam bulan. Sedangkan padi hanya empat bulan. Jadi, selama dua bulan menunggu, ikan kita pindah di keramba,’’ imbuh Hambali.

Satu kolam sawah bisa diisi 4.000 ekor ikan. Setiap ekor ikan yang dijual memiliki bobot di atas tiga kilogram jika dipanen sesuai dengan waktunya. ’’Dulu ada yang paling besar 9 kilogram. Cuma rata-rata tidak sampai segitu. Kita menjualnya Rp 50 ribu per kilogram,’’ imbuhnya.

Selain mina padi, konsep Kampoeng Ikan diawali dari pemanfaatan Sungai Luganti yang dijadikan tempat untuk budi daya ikan air tawar.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore