JawaPos Radar

5 Jam Menari Nonstop di Kampung Warna-Warni

23/09/2018, 17:19 WIB | Editor: Dida Tenola
5 Jam Menari Nonstop di Kampung Warna-Warni
Para mahasiswa dari Prodi Pendidikan Seni Tari dan Musik UM menari selama 5 jam nonstop di pinggir bantaran sungai yang ada di wisata KWW, Minggu (23/9). (Fisca Tanjung/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com- Ada pemandangan berbeda di bantaran sungai kawasan wisata Kampung Warna-Warni (KWW), Kota Malang, Minggu (23/9). Ratusan penari menggelar pertunjukkan seni tari dari berbagai daerah.

Pengunjung wisata KWW dikejutkan dengan ratusan penari yang tiba-tiba berlenggak-lenggok gemulai, luwes memergakan gerakan tarian. Penari-penari tersebut mengenakan pakaian daerah lengkap sesuai asal tarian yang mereka bawakan. Seperti tarian kecak dan Jaipong. Bahkan, ada salah satu penari yang menari diatas sebuah batu yang berada ditengah sungai.

Para penari tersebut merupakan mahasiswa dari Prodi Pendidikan Seni Tari dan Musik Universitas Negeri Malang (UM). Mereka sedang mengikuti acara bertajuk 5 jam menari, dengan tema “Out of  Frame”. Selama 5 jam non stop, mereka menghibur para pengunjung.

Setidaknya ada 250 mahasiswa yang terlibat dalam acara ini. Event ini juga sebagai Ujian Tengah Semester (UTS) bagi para mahasiswa.

Koordinator Acara Out of Frame Robi Hidayat menyampaikan, kegiatan ini sebagai pembelajaran mahasiswa agar bisa tampil didepan publik. Pasalnya, umumnya perkuliahan itu berlangsung di kelas. Evaluasinya juga berlangsung di dalam kelas.

"Kalau mahasiswa ada 30 di kelas, dan dosen hanya satu, yang menikmati hasil ekspresi mahasiswa itu terbatas. Kemudian dikeluarkan (kegiatan) semacam ini. Bukan hanya dosen yang menilai, tetapi masyarakatnya juga," ujarnya di sela-sela acara.

Sehingga, lanjut dia, bisa menimbulkan kreativitas-kreativitas dari mahasiswa."Mereka punya inisiatif, keberanian," kata dia.

Robi menjelaskan, pemilihan lokasi  di KWW karena terkait dengan penonton. "Karena biasanya kesenian itu hanya sebatas yang ada di kepala kita, padahal penonton tidak seperti itu. Kesempatan dosen dan mahasiswa (melihat) bagaimana penonton itu punya kepedulian. Bisa lihat ternyata masih ada yang pingin lihat tarian tradisional," paparnya. 

 

 

(fis/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up