
Marudut saat bertemu dengan masyarakat yang memungut uang kepada orang yang masuk ke toilet umum.
JawaPos.com - Suasana Posko Terpadu tenggelamnya KM Sinar Bangun yang biasanya tenang mendadak heboh, Jumat (22/6) sore. Tiba-tiba Kapolres Simalungun AKBP Marudut Liberty Panjaitan mendatangi toilet umum di pelabuhan itu karena mendengar ada pungutan liar di sana.
Liberty kemudian menanyakan soal pungutan itu kepada seorang ibu-ibu yang duduk di dekat sebuah kardus berisi uang. Dia menanyakan kenapa ada tulisan perintah membayar bagi yang menggunakan fasilitas umum itu. "Kalau terus dikutip nanti saya tangkap," kata Marudut.
Marudut pun kemudian mencopoti kertas tarif toilet yang ditempel di dekat pintu. Ia meminta, sang ibu untuk menutup barang dagangan yang ikut dijajakan di dekat toilet. "Keluar ini, keluarkan ini, jangan jadi alasan aja ini jualan," kata Marudut sambil menunjuk ke arah makanan ringan yang diletakkan di rak.
Sang ibu awalnya hanya diam melihat usahanya itu diminta untuk tutup. Namun akhirnya dia angkat bicara. Katanya, dirinya sudah meminta izin kepada Dinas Perhubungan Simalungun yang ada di Raya. "Sudah dari beberapa tahun lalu ini kami disini," kata sang ibu.
Setelah meminta dagangan dan menghentikan usaha toilet itu, Marudut kemudian meninggalkan lokasi. Ternyata sebelumnya, Marudut sudah memanggil anggota Dishub yang bertugas di lokasi untuk menanyakan hal itu. Namun sang petugas agaknya pura-pura tidak tahu. Bahkan saat mendatangi usaha toilet umum itu, petugas berompi oranye tua itu menghilang tiba-tiba.
Usai Marudut pergi, sang ibu pun tiba-tiba mengamuk sejadinya. Dia berteriak dan meminta Marudut kembali untuk berbicara kepadanya. "Saya tidak terima. Ini di kontrak ya. Saya yang mengurusnya sendiri ke Dinas Perhubungan Simalungun," katanya sambil coba ditenangkan oleh anaknya.
Belakangan, aksi Marudut yang meminta agar usaha itu ditutup menuai protes dari anak sang ibu. Mereka mengatakan sudah menyetor sejumlah uang ke Dishub agar bisa membuka usaha di kawasan pelabuhan.
Salim Sitio, salah satu anaknya mengatakan kalau mereka menyetor Rp 400 ribu kepada Dinas Perhubungan. Mereka juga harus membayar uang listrik dan air sejumlah Rp 600 ribu. "Kita langsung ke Raya ngurusnya. Selama ini gak pernah dimarah-marahi. Kita bukan ilegal lho," kata Salim.
Salim juga marah ketika kutipan toilet itu disebut sebagai pungutan liar. Karena mereka merasa sudah membayar dan mengurusi toilet itu. Bahkan mereka mengatakan, jika dikelola oleh Pemkab, maka toilet itu tidak terurus.
Sebelumnya, beberapa keluarga korban KM Sinar Bangun merasa kesal karena harus membayar toilet. Satu orang, dikutip Rp 2 ribu untuk buang air dan Rp 5 ribu untuk mandi.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Nathalie Holscher-Aripat Menikah, Sule Titip Pesan untuk Adzam, Balasan Nathalie Jadi Sorotan
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Analis Ungkap Strategi Iran Pilih Sasar Negara Teluk Tanpa Serang Kapal Induk AS
