alexametrics
Kaleidoskop 2018

Bom Surabaya, Fenomena Baru Aksi Terorisme

22 Desember 2018, 10:23:54 WIB

JawaPos.com – Dua hari berturut-turut, Kota Surabaya diguncang bom bunuh diri. Dimulai pada Minggu (13/5) pagi sekitar pukul 06.30 WIB. Yusuf Fadhil, 18, dan Firman Halim, 16, beraksi.

Dengan berkendara sepeda motor, mereka mencoba masuk ke dalam Gereja Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel Madya. Namun belum sampai benar-benar masuk ke dalam area gereja, seorang jemaat yang bertugas menjaga pagar depan menghadang keduanya. Beberapa detik kemudian, bom yang dibawa Yusuf dan Firman meledak.

Tragedi tersebut menyebabkan 2 korban tewas dan 13 orang lainnya luka-luka. Dua korban tewas adalah pelaku bom. Sedangkan korban luka merupakan jemaat gereja.

Bom Surabaya
(Kokoh Praba Wardani/JawaPos.com)

Selang 30 menit, bom kembali meledak di depan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS). Pelakuya Dita Oepriarto yang ternyata ayah dari Yusuf dan Halim.

Aksi Dita hampir sama dengan kedua putranya. Berbekal belasan bom di dalam mobil, pelaku merangsek masuk ke gereja melalui pagar depan. Karena berdaya ledak tinggi, efeknya hingga menimbulkan kebakaran hebat.

Bangunan depan dan belasan sepeda motor yang terparkir di area gereja hangus terbakar. Dita pun tewas seketika di lokasi kejadian. Dua jemaat yang kebetulan bertugas mengatur parkir di gereja juga tewas.

Ada yang kedua, biasanya ada yang ketiga. Benar saja, Puji Kuswati dan kedua putrinya bernama Fadhila Sari dan Pamela Riskika nekat meledakkan diri di area parkir GKI Diponegoro pukul 10.30 WIB. Tiga pelaku tewas seketika. Kemudian 6 jemaat mengalami luka-luka akibat dampak ledakan.

Ternyata, bom yang meledak belum semuanya. Polisi menemukan satu bom aktif yang masih menempel di paha salah satu anak. Tim Penjinakan Bahan Peledak (Jihandak) langsung melepaskan bom itu dari paha sang anak yang tewas. “Ini bom yang di anaknya. Insya Allah sudah tidak ada bom aktif lagi,” kata seorang petugas di lokasi kala itu.

Minggu (13/5) malam sekitar pukul 20.30 WIB, bom meledak di Rusunawa Wonocolo, Taman, Sidoarjo. Ledakan menewaskan Anton Febrianto, 47; Puspita Sari, 47; Dita Aulia Rahman, 15.

Kabid Humas Polda Jawa Timur (Jatim) Kombes Pol Frans Barung Mangera memastikan bahwa bom yang meledak adalah jenis rakitan. Namun saat itu belum dapat dipastikan apakah bom sengaja diledakkan atau tidak.

“Kalau itu meledak di rumah berarti ada unsur ketidaksengajaan. Itu meledak sendiri sehingga menyebabkan ibu dan anak perempuan meninggal dunia di TKP serta melukai dua adiknya,” kata Barung.

Teror bom masih berlanjut. Senin (14/5) pagi pukul 08.50 WIB, bom bunuh diri menyasar Polrestabes Surabaya. Pelakunya pasangan suami-istri. Adalah Tri Murtiono, 50, dan Tri Ernawati, 43. Mereka meledakkan diri bersama ketiga anaknya dengan mengendarai dua sepeda motor.

Akibatnya, dua sepeda motor hancur dan satu mobil yang berada disamping para pelaku rusak berat di sisi kiri. Murtiono, Ernawati, Muhammad Daffa Amin Murdana, 18, dan Muhammad Dary Satria Murdana, 14, tewas di lokasi kejadian.

Aksi bom bunuh diri itu menyisakan putri Murtiono bernama Aisyah Azzahra Putri, 7. Dia selamat usai terpelanting akibat hentakan bom yang diletakkan diantara pangkuan kedua orang tuanya.

Empat polisi dan 6 warga yang kebetulan tak jauh dari titik ledakan turut menjadi korban. Keempat polisi adalah Bripda M. Maufan, Bripka Rendra, Aipda Umar, Briptu Dimas Indra, Brigadir Balok.

Balok menuturkan, kedua motor yang dikendarai berjalan cepat memasuki sela-sela kiri mobil Toyota Avanza. Balok merasa beruntung karena motor pelaku lebih cepat.  “Coba kalau agak pelan sedikit, terus saya jalan di sampingnya, mungkin kondisi saya lebih parah,” ujarnya.

Pelaku Libatkan Keluarga

Aksi bom bunuh diri terbilang sebagai fenomena baru. Pelaku adalah satu keluarga. Mulai ayah, ibu, hingga putra-putrinya. Para pengamat menyebut bahwa fenomena tersebut bukan hanya kali pertama di Indonesia, tapi juga di dunia.

Pengamat terorisme dari Universitas Udayana AA Bagus Surya mengatakan, fenomena bomber berasal dari satu keluarga yang sama merupakan hal baru di jagat terorisme. “Bomber sekeluarga saya rasa memang modus baru. Apalagi dengan profil keluarga dengan beberapa anak seharusnya memiliki kehidupan yang normal,” kata Bagus.

Aparat keamanan bakal semakin sulit mendeteksi serangan jika modus bomber keluarga dipraktikkan dalam aksi-aksi teror ke depan. “Kondisinya jadi lebih rumit. Selain itu, teori rasionalitas juga sulit untuk membedah perilaku sekeluarga menjadi bomber,” jelasnya.

Hal senada disampikan pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh Aceh Al Chaidar. Menurutnya, aksi bom bunuh diri yang melibatkan semua anggota keluarga memang cukup membingungkan. Modus seperti itu telah membalikkan semua pakem pelaku teror dalam aksinya selama ini.

“Saya katakan aksi itu ultimate terorism (tindakan puncak sebuah teror). Pelakunya hanya bisa dijelaskan sebagai aksi orang gila,” cetus Al Chaidar.

Kecaman Hingga Polemik RUU Antiteror

Aksi teror bom di Surabaya menyita perhatian banyak pihak di Indonesia. Mulai pejabat negara, artis, hingga komunitas lintas agama. Di antaranya Gubernur Jatim terpilih Khofifah Indah Parawansa dan Ketua GP Ansor PW Jateng Sholahudin Aly. Ketua MPW Pemuda Pancasila DKI Thariq Mahmud dan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto pun turut melontarkan kecaman terhadap aksi teror itu.

Selain kecaman, beberapa pihak juga meminta pengesahan RUU Antiteror segerah disahkan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan telah meminta DPR RI mengesahkan RUU tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme pada masa siang berikutnya.

Jokowi mengatakan akan menerbitkan Peraturan Pengganti Undang Undang (Perppu) jika RUU Antiteror tidak segera disahkan. Menurutnya, polisi perlu payung hukum yang memudahkan upaya pencegahan dan penindakan segala macam bentuk terorisme

“Karena itu (RUU Anti Teror) merupakan payung hukum penting bagi aparat, Polri, agar dapat menindak tegas dalam pencegahan maupun dalam tindakan,” kata Jokowi di JIExpo Jakarta, Senin (14/5).

Namun sejumlah fraksi di parlemen berpendapat bahwa rencana penerbitan Perpu oleh Jokowi sebenarnya tidak perlu. Sebab pembahasan revisi UU nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme hampir selesai.

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Agus Hermanto mengatakan, pembahasannya menyisakan definisi terorisme yang berbeda di internal pemerintahan. “Kalau ancer-ancernya Juni, rasanya sudah selesai tuh,” ucap Agus.

Editor : Sofyan Cahyono

Reporter : (did/HDR/JPC)

Saksikan video menarik berikut ini:


Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Bom Surabaya, Fenomena Baru Aksi Terorisme