JawaPos Radar

Sekam Padi Diolah Menjadi Bioavtur

20/08/2018, 10:49 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Mahasiswa ITS
Mahasiswa ITS saat meneliti abu sekam padi untuk diolah menjadi bioavtur. (Dok. Humas ITS for JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Mahasiswa Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya meneliti kandugan sekam padi untuk dijadikan bioavtur. Selama ini, bioavtur dihasilkan dari minyak kelapa sawit.

Penelitia berawal saat para mahasiswa melihat Indonesia kekurangan hasil olahan minyak bumi berupa aviation turbine fuel (Avtur). Pada 2014, defisit avtur yang dialami Indonesia mencapai 0,9 juta kl.

Beberapa penelitian mencoba mengganti avtur dengan bioavtur. Namun hasil produksi bioavtur yang berbahan dasar minyak kelapa sawit kurang ekonomis. Biaya produksinya relatif mahal. Penyulingan yang menggunakan katalis SiO2 (silika) hanya bisa menghasilkan 36 persen dari total volume minyak kelapa sawit itu sendiri.

Mahasiswa ITS kemudiam mencari alternatif produksi bioavtur yang jauh lebih efektif dan efisien. "Kalau minyak kelapa sawit katalisnya mahal, hasilnya juga sedikit," ucap Mabrur Zanata, seorang mahasiswa yang ikut meneliti bioavtur tersebut.

Bersama dua orang rekannya, Mabrur kemudian mencoba mengganti katalisator dengan abu sekam padi. Pertimbangan penggunaan abu sekam padi itu tak terlepas dari besarnya produksi gabah Indonesia yang tinggi. Dalam setahun, Indonesia bisa menghasilkan 70,87 juta ton gabah. "Kandungan silika dalam sekam padi ini bisa mencapai 90 persen," tambahnya.

Penelitian bioavtur sukses memperoleh pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Mahasiswa ITS juga akan memamerkan hasil penelitiannya pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) yang berlangsung di Jogjakarta, akhir Agustus mendatang.

Ketiga mahasiswa sempat mendapat hambatan saat meneliti kandungan sekam padi. Salah satunya pengolahan sekam padi menjadi silika yang memakan waktu cukup lama. "Pertama-tama, kami harus mengaktifkan menggunakan asam klorida. Lalu menghilangkan pengotor dengan proses kalsinasi," papar Mabrur.

Tidak hanya itu, proses pengolahan berlanjut melalui impregnasi silika dengan logam nikel. "Di tahap ini kami baru menyelesaikan katalisnya," tutur mahasiswa asal Bogor tersebut.

Katalis tersebut kemudian direaksikan dengan minyak kelapa sawit yang beragam persentase katalisnya dalam dua variabel suhu yaitu 300 dan 400 derajat celcius. "Hasil paling optimal yang kami dapat adalah 45,17 persen bioavtur. Itu didapat dari perbandingan katalis dan minyak kelapa sawit sebesar 3:100," imbuh Mabrur.

Saat ini, Mabrur dkk sedang mematangkan penelitian sebelum bertolak ke Jogjakarta. Untuk menyempurnakannya, mereka berencana menggunakan dua variabel perbandingan katalis lain. Yakni, senilai 7 persen dan 9 persen.

(did/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up