
Photo
JawaPos.com - Jalur utama pantai utara (Pantura) di kawasan desa Eretan Wetan mendadak macet. Baik dari arah Jakarta maupun sebaliknya. Siang itu selesai salat Jumat (23/4) sekitar pukul 14.00 WIB, nampak semua kendaraan berhenti dan mengular panjang.
Kemacetan mendadak itu terjadi karena sebagian masyarakat Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Indramayu, Jawa Barat, tumpah di depan kantor balai desa yang letaknya di sebelah jalur utama pantura itu.
Nampak di jalanan ratusan warga bersuka cita menyambut calon kepala desanya yang akan bertarung di pemilihan kepala desa (Pilkades) pada 2 Juni 2021. Baik orang tua, kaum muda, dan anak-anak berbaur dengan wajah-wajah penuh semangat untuk mengarak calon yang didukungnya.
Tak dipungkiri, gelaran pesta demokrasi di tingkat desa kini sudah semakin maju. Sistem dan tahapannya sudah makin mirip pilkada. Ada pantia pemilihan kuwu (Panpilwu) yang dipilih sebagai penyelenggara atau bertindak sebagai Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam pilpres atau pilkada.
Pilwu Desa Eretan Wetan tahun 2021 ini diikuti lima calon yang telah memenuhi syarat kelengkapan dan keabsahan administrasi. Pengundian nomor urut pun dilakukan secara terbuka oleh Panpilwu yang dihadiri juga oleh lima calon kepala desa, Kuwu Pelaksana Jabatan (PJ), Camat Kandanghaur, Babinsa TNI dan Babinkamtibmas Polsek Kandanghaur.
Salah satu yang menarik dari lima calon itu adalah, sosok Supriyanto. Kandidat termuda itu mendapat nomor urut tiga. Dalam demokrasi langsung, usia tentu tidak menjadi masalah. Selama sang calon bisa memenuhi segalar prosedur dan persyaratan yang telah ditetapkan tentu sah-sah saja.
Terbukti dalam acara pengambilan nomor urut itu Supri paling banyak diarak-arak oleh para pendukungnya yang mayoritas kaum muda dan kompak memakai atribut kaos hitam. Mereka kompak meneriakan yel-yel "Eretan Bangkit" dengan penuh gegap gempita. Termasuk bernyanyiHalo-Halo Bandung sembari diiringi musik angklung khas campur sari yang biasa dibawakan para pengamen. Bendera hitam bertuliskan Slogan "Mari Bung Rebut Kembali" berkibar-kibar mengiringi arak-arakan itu.
Fenomena demokrasi tersebut, baru kali ini terjadi di desa yang dulu pernah jaya karena hasil perikanan lautnya itu. Karena biasanya jarang anak muda ingin terlibat langsung dalam kontestasi demokrasi yang kerap didominasi oleh orang-orang tua. Itu pun biasanya oleh kalangan tertentu, terutama yang punya modal uang banyak.
Wandi salah satu warga Eretan Wetan yang hadir di hari itu mengatakan, bahwa dirinya baru kali ini melihat ratusan massa yang didominasi kalangan muda bersuka cita menyambut gelaran dimulainya pesta demokrasi lokal. Bahkan, kata dia, mereka rela mengeluarkan uang pribadinya masing-masing demi mencetak kaos, sepanduk, dan atribut dukungan untuk calon kuwunya.
"Terus terang saya merinding melihat semangat anak-anak muda Eretan Wetan dan orang - orang tua yang mendukung Bung Supri (Panggilan Supriyanto, red) berbaris penuh semangat untuk mendukung dengan ikhlas Bung Supri," ujar Wandi kepada JawaPos.com.
Menurut Wandi, fenomena ini adalah gambaran nyata bahwa mayoritas warga Eretan Wetan menginginkan adanya perubahan untuk desanya. Mayoritas masyarakat ingin dipimpin oleh orang sosok yang baru dan bisa menghadirkan soslusi baru untuk permasalahan desa yang selama ini selalu terjadi.
"Sejujurnya semua masyarakat desa Eretan tentu ingin desanya menjadi baik lagi. Tidak lagi becek dan harus dihadapkan pada banjir rob setiap bulannya. Kami ingin bangkit dan kami butuh perubahan," tegas Wandi.
Sebagaimana diketahui, Eretan Wetan merupakan desa yang paling sering terkena dampak banjir rob. Ribuan rumah warga kerap terendam dan sebagian penduduk pun teraksa harus mengungsi ke sejumlah masjid yang masih belum teredendam banjir.
Wandi juga menuturkan, dukungan terhadap Bung Supri ini juga tidak hanya datang dari lapisan kaum muda, namun berbagai kalangan tokoh desa. Baik dari sespuh maupun tokoh agama. Salah satunya Haji Masnun Sarnawi dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Bahkan, dukungan juga datang dari para warga Eretan Wetan yang ada di Perantauan. Baik di Jabodetabek atau pun yang ada di luar negeri.
"Mereka (para perantau) banyak mensuport dari jauh meskipun belum tentu bisa hadir dan memilih saat 2 Juni nanti. Namun, mereka sejatinya total mendukung perubahan di Eretan Wetan," tandas Wandi yang sehari-hari berdagang ikan lele itu.
Dihubungi terpisah, Hadiyan salah satu warga Eretan Wetan yang kini berdomisili di Depok berharap ada perubahan untuk desanya. Karena itu sudah saatnya lahir para pemimpin baru yang memiliki semangat membangun dan didukung tanpa harus ada embel-embel uang.
"Kami di perantauan tentu tidak ingin tanah kelahiran kami harus dihadapkan pada banyak masalah yang tak kunjung selesai. Karena itu harus ada perubahan. Sebab bagaimanapun orang tua dan saudara-saudara kami butuh desa yang sehat dan layak untuk hidup," ujar Hadiyan yang dikenal sebagai salah satu inisiator gerakan SaveEretan itu.
Alumni Madrasah Iptidaiyah (MI) Eretan Wetan yang sempat berprofesi sebagai ahli perminyakan itu juga mengaku sangat kagum dengan semangat kaum muda di desa yang mau bahu membahu dan tegas menolak politik uang dalam kontestasi pemilihan kuwu. Kesadaran itu jelas harus didukung, karena bagaimanapun masa depan desa ada pada tenaga anak-anak mudanya.
"Mereka sadar, bahwa uang Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu itu tidak akan menjamin masa depan desa menjadi lebih baik. Karena sejatinya mereka ingin perubahan yang berdampak positif bagi masa depan mereka," ujarnya.
Baca Juga: Ada Pelecehan, Hotman Laporkan Tim Asesmen TWK KPK ke Komnas Perempuan
Sementara itu, Bung Supri saat dihubungi JawaPos.com menuturkan, dirinya berharap dalam kontestasi pilwu nanti semua pihak bisa sama-sama saling menjaga dan bertindak sesuai dengan aturan yang ada.
"Jangan sampai diciderai dengan tindakan yang tidak sesuai dengan aturan. Karena pasti akan banyak pihak yang dirugikan," ujarnya usai memberikan pembekalan kepada para ratusan relawan pendukungnya, Kamis (20/5).
Supri yang keseharianya berdagang ikan itu juga mengucapkan terima kasih banyak atas dukungan para sesepuh desa, tokoh agama, kaum muda juga ibu-ibu yang ingin Eretan Wetan bangkit dan berubah menjadi desa yang tak lagi harus didera persoalan banjir rob.
"Kesuwun (terima kasih) atas dukungan, semoga gerbong perjuangan perubahan dan kebangkitan Eretan Wetan ini semakin solid dan didukung penuh semua masyarakat, sekali lagi terima kasih," ujarnya.
Seperti diketahui, di Kabupaten Indramayu terdapat 171 desa yang bakal menggelar pilwu serentak. Pasalnya, masa jabatan kuwu di desa-desa itu berakhir pada 14 Januari 2021.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
