Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 Januari 2019 | 22.35 WIB

Hujan Abu Sering Terjadi, Erupsi Merapi Cenderung Efusif

KUBAH BARU: Gunung Merapi di perbatasan Jateng DIJ masih terus bergejolak. Lava pijar kerap keluar dan terlihat jelas di malam hari dari kejauhan. - Image

KUBAH BARU: Gunung Merapi di perbatasan Jateng DIJ masih terus bergejolak. Lava pijar kerap keluar dan terlihat jelas di malam hari dari kejauhan.

JawaPos.com - Erupsi Gunung Merapi yang dialami saat ini cenderung bersifat efusif. Yakni adanya pembentukan kubah lava baru akibat tekanan dari dalam gunung.


Hal tersebut diungkapkan Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida saat ditemui JawaPos.com di kantornya baru-baru ini. "Erupsi efusif itu tumbuh kubah lava," kata dia.


Sifat letusan seperti ini tidak berbahaya dibandingkan erupsi 2010 silam yang eksplosif dan menyebabkan banyak korban jiwa. Magma yang keluar meleleh, seperti pada peristiwa 2002 dan 2006 silam.


Adanya aktivitas berupa pertumbuhan kubah lava ini memunculkan fenomena berupa guguran di puncak. Dampak dari adanya guguran ini mengakibatkan seringnya terjadi hujan abu yang bisa mencapai 5 kilometer dari puncak.


Namun tergantung pula dari kecepatan angin yang membawanya. "Tergantung arah dan kecepatan angin. Abu ini terbawa karena kencangnya angin," ucapnya.


Hujan abu seperti ini dialami pada Jumat (4/1) dan Sabtu (5/1). Dirasakan oleh warga di sekitar lereng Merapi, seperti Dusun Kalitengah Lor, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman.


Kepala Seksi Merapi BPPTKG Jogjakarta Agus Budi Santoso menambahkan, meski kubah lava masih lambat, namun tetap harus ada skenario mitigasi untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan.


Terutama terhadap warga yang sampai saat ini masih tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III di wilayah Sleman dan Klaten. Skenario yang pertama, yakni ketika memang nantinya meluncurkan awan panas maka masyarakat di KRB III harus segera menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman.


Kemudian skenario kedua, pertumbuhan kubah lava yang selama ini dialami itu berhenti dan tidak membahayakan warga. "Skenario kedua, pertumbuhan kubah lava berhenti. Akhirnya tersumbat dan eisode erupsi Gunung Merapi 2018 berhenti," pungkasnya.


Sementara itu, BPBD Kabupaten Boyolali pun telah menyiapkan sejumlah posko terkait kebencanaan yang terjadi. Terlebih aktivitas merapi sangat aktif beberapa bulan terakhir.


Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD  Boyolali, Bambang Sinungharjo menyampaikan, bahwa saat ini sudah ada posko Merapi. Posko ini menjadi satu dengan posko untuk banjir dan tanah longsor. Dengan adanya posko Merapi ini diharapkan bisa mempercepat evakuasi atau penanganan jika sewaktu-waktu gunung Merapi terjadi erupsi.


“Posko ini selalu ada petugas yang berjaga, jadi setiap hari ada yang piket,” katanya kepada JawaPos.com baru-baru ini.


Di samping itu, sebagai kesiapsiagaan terhadap erupsi Merapi, pihaknya juga sudah bekerja sama dengan BPBD Provinsi. Dan hasilnya adalah dengan adanya pemasangan sejumlah CCTV di beberapa wilayah yang masuk dalam zona merah erupsi Merapi. Seperti di Kecamatan Tlogolele, Jrakah dan Klakah.


“Kami juga sudah berkoordinasi dengan lurah setempat dan juga warga, jika nantinya terjadi erupsi lurah langsung bisa memantau melalui CCTV yang kami pasang,” katanya.

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore