
GAGAL PANEN: Warga Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito, Wonogiri, menunggui ladang mereka agar tidak dijarah kera-kera liar.
JawaPos.com – Hasil panen padi sejumlah petani di Desa/Kecamatan Semen merosot. Ini karena tanaman diserang hama tikus dan burung. Selain itu, lahan kekeringan gara-gara petani kesulitan air.
“(Hasil) panen berkurang hampir 40 persen,” ungkapYanto, 55, petani Semen seperti di kutip Radar Kediri.
Menurutnya, panen pada musim penghujan kemarin bisa sampai 4 ton. Namun sekarang hanya 2 ton saja. Penyebab produksi buruk itu akibat kurangnya pasokan air. Selain itu juga dari serangan hama tikus dan burung.
“Saya itu sudah memasang alat pengusir burung. Tapi tetap diserang. Sedangkan pasokan air kemarau harus bergiliran seminggu sekali,” ujar Yanto ketika ditemui di gubuk sawahnya.
Tanaman padi, diakuinya, kesulitan air saat kemarau. Makanya petani mengharapkan air dari sungai terdekat dan hujan. Apalagi, belum ada yang punya sumur di sawah.
Pada saat hujan, Yanto mengaku, petani terkadang masih mengalami rugi. Sebab, tanaman padi ambruk karena hujan disertai angin kencang. Sedangkan hama tikus bisa diatasi dengan jebakan. Hanya saja, petani kewalahan jika diserang tiap hari.“Bagian atas tanaman diserang burung, bawahnya digerogoti tikus,” keluh Yanto.
Terpisah, petani jagung dari beberapa desa di Kecamatan Gampengrejo malah mengalami gagal panen. Itu akibat tanamannya diserang hama tikus. Semua tanaman jagung ludes. “Ya ini semuanya rusak Mbak. Nggak jadi panen,” ujar Murdi, 65, petani Desa Plosorejo, Kecamatan Gampengrejo saat ditemui di sawahnya.
Sawah Murdi seluas 50 ru (1 ru=14 meter persegi). Kondisinya sangat kering dan jagungnya rusak bahkan busuk. Sebelumnya, ia menanam benih sebanyak 2,5 kilogram (kg). Biasanya membutuhkan waktu 4 bulan untuk panen.
Namun saat jagung berumur dua bulan sudah ludes dimakan tikus. “Baru dua bulan sudah dinaiki tikus. Terus jagungnya dimakan Mbak,” imbuhnya. Padahal, Murdi sudah memberikan racun pembunuh tikus. Namun tetap saja tanamannya diserang.
Berbeda dengan sawah Mundori, 70, warga Desa Turus, Kecamatan Gampengrejo. Tanaman jagungnya tidak terlalu rusak. Pasalnya, tidak banyak tikus yang menyerang. “Tikus ya ada Mbak, tapi gak terlalu banyak kayak di Desa Plosorejo,” ungkap Mundori. Ia juga menyebutkan jika sawah di sekitar Plosorejo memang banyak yang gagal panen akibat tikus.
Mundori mengaku, memiliki cara untuk membasmi tikus. Yakni dengan cara diberi perangkap. Upaya itu dinilai cukup efektif. Hanya saja, yang berukuran besar saja yang terperangkap. “Ya ini bisanya diberi perangkap tikus Mbak, tapi yang kecil-kecil gak kena,” imbuhnya.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
