
calon penumpang memadati area pintu keberangkatan Bandara Hang Nadim Batam, Rabu (3/6). Mereka antri saat akan melakukan pemeriksaan kesehatan dan pemeriksaan dokumen oleh tim medis yang menjadi menjadi syarat bagi penumpang pesawat yang akan melakukan
JawaPos.com - Para pebisnis setidaknya kini bisa sedikit bernapas lega. Akses perjalanan bisnis penting Indonesia dan Singapura akhirnya dibuka. Negosiasi mengenai Travel Corridor Arrangement (TCA) atau Reciprocal Green Lane (RGL) antar-kedua negara telah mencapai kata sepakat.
Informasi tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi, dalam temu media secara daring, Senin (12/10). ”Dengan selesainya negosiasi ini, maka secara resmi pada hari ini (kemarin, red) pula TCA/RGL secara resmi saya luncurkan,” ujarnya. Di hari yang sama, Singapura juga meluncurkan pengaturan ini.
Meski begitu, TCA baru akan berlaku pada 26 Oktober 2020 nanti. Kedua negara sepakat, pengaturan ini berlaku 14 hari setelah pengumuman dilakukan. Perjalanan dapat dilakukan sesuai proses aplikasi e-imigrasi untuk Indonesia dan safe travel pass untuk Singapura. ”Ini berarti kedua negara akan mulai menerima aplikasi pada tanggal 26 Oktober 2020,” ungkap Retno.
Retno menegaskan, TCA ini hanya berlaku untuk perjalanan bisnis esensial, perjalanan diplomatik, dan kedinasan yang mendesak. Bukan untuk perjalanan biasa atau wisata. Selain itu, sebagaimana pengaturan TCA dengan negara lain, maka penerapan protokol kesehatan secara disiplin dan ketat akan menjadi bagian utama dari pengaturan ini. Karenanya, kedua negara menyepakati sejumlah poin penting terkait TCA/RGL ini.
Senada, dalam keterangan resmi Kementerian Luar Negeri Singapura, Senin (12/10), juga menyampaikan bahwa kedua Menteri Dalam Negeri yakni Retno Marsudi dari Indonesia dan Vivian Balakrishnan dari Singapura, dengan didasari hubungan kerja sama yang baik antar-kedua negera selama 53 tahun berjalan dan sesuai pembahasan diplomasi pada Agustus 2020 lalu tentang pentingnya memperkuat kerja sama mengatasi tantangan-tantangan umum yang ditimbulkan pandemi Covid-19, maka disepakati membuka pintu perbatasan kedua negara.
“Setelah hampir enam bulan perbatasan dua negara ditutup, maka secara resmi, akhirnya perbatasan dibuka kembali,” ujar Juru Bicara Kemenlu Singapura seperti dikutip Batam Pos.
Panduan perjalanan ini, setiap WNI wajib memenuhi persyaratan, yakni wajib menyertakan hasil tes bebas Covid-19 berupa hasil polymerase chain reaction (PCR) sebanyak dua kali, yakni saat datang maupun saat keluar dari negara, baik Indonesia maupun Singapura.
Kemenlu dua negara menegaskan, para pendatang ini harus mematuhi langkah-langkah pencegahan dan kesehatan yang saling disepakati ini. Rincian operasional RGL/TCA termasuk persyaratan prosedural, protokol kesehatan, dan proses aplikasi lanjutan akan diumumkan selanjutnya.
Sebagai informasi, untuk sementara, akses yang dibuka hanya di dua titik. Yaitu, Tanah Merah Ferry Terminal Singapura – Pelabuhan Feri Internasional Batam Center dan Bandara Soekarno-Hatta International Airport dan Changi International Airport. Nantinya, setibanya di Singapura, eligible travellers dari Indonesia wajib registrasi pada aplikasi TraceTogether dan SafeEntry selama berada di sana. Sementara, bagi traveler Singapura wajib registrasi di aplikasi e-HAC dan PeduliLindungi selama berada di Indonesia.
”Hingga 26 Oktober nanti, tim kedua negara untuk berkoordinasi dan terus mematangkan persiapan pada tingkat teknis,” jelas Retno. Sehingga sistem masing-masing negara betul-betul siap menerima aplikasi TCA/RGL.
Meski baru sebatas kepentingan bisnis, tugas pemerintahan, dan urusan diplomatik, kabar tersebut menjadi angin segar bagi pelaku usaha di Batam. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, mengatakan, pembukaan perbatasan dengan Singapura ini sangat dibutuhkan saat ini terutama untuk sektor pariwisata.
”Namun untuk pembukaan perbatasan tanggal 26 Oktober tidak untuk turis. Sehingga dampaknya kepada peningkatan aktivitas pariwisata di Kepri tidak akan terlalu signifikan. Pembukaan perbatasan yang direncanakan hanya untuk keperluan pebisnis dan pegawai pemerintahan,” katanya.
Walaupun begitu, ia menyambut baik pembukaan perbatasan dua negara bertetangga ini. Karena cukup banyak orang yang beraktivitas dari Batam menuju Singapura dan sebaliknya untuk tujuan bisnis.
Selama beberapa bulan ini, arus manusia tersebut memang tidak bisa bergerak karena kebijakan penutupan perbatasan oleh Indonesia dan Singapura.
”Kita berharap untuk perjalanan wisata juga segera dibuka. Karena daya tahan pelaku usaha sektor pariwisata di Batam sudah semakin melemah. Supaya karyawan yang kemarin sempat dirumahkan segera dipanggil kembali. Pembukaan perbatasan dengan Singapura dan negara lainnya saat ini sangat dibutuhkan oleh pelaku usaha pariwisata di Kepri,” paparnya.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Batam, Muhammad Mansur, menyambut positif hal tersebut. ”Sangat bagus sekali, mudah-mudahan ada dampaknya bagi pelaku usaha secara keseluruhan,” tuturnya.
Tapi, sekali lagi Mansur mengingatkan bahwa hal tersebut malah tidak akan bedampak sama sekali, jika Indonesia tak kunjung juga memperbaiki diri terkait penegakan protokol kesehatan.
”Sudah diberi kesempatan agar orang datang kembali, tapi kembali ke diri kita sendiri. Meski sudah ada perjanjian bilateral, tapi kondisi di sini masih abai protokol kesehatan, maka mereka nanti jadi ragu,” ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan, sebanyak 26 hotel yang tergabung di PHRI Batam, turut serta mendukung Program Gerakan Sejuta Masker. ”Hari ini (kemarin, red) PHRI menyerahkan bantuan tersebut langsung ke Pemerintah Kota Batam, dan diterima oleh Kadisbudpar Kota Batam, Bapak Ardiwinata,” ungkapnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
