
POLICE LINE: Kepolisian berpakaian preman melakukan penangkapan terhadap sebuah keluarga diduga terkait kasus terorisme di Mlati, Sleman, Rabu (11/7).
JawaPos.com - Kepolisian berpakaian preman melakukan penangkapan terhadap sebuah keluarga diduga terkait kasus terorisme di RT 5/35, Bedingin Wetan, Sumberadi, Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) Rabu (11/7) pagi.
Dari penangkatan tersebut, mereka mengamankan barang bukti pedang, busur panah, pisau sangkur, laptop, dan beberapa buku.
Keluarga yang ditangkap itu diantaranya Saefulloh, 45, kelahiran Tegal, dan istrinya, Sri Suhartati, 42 serta anak-anaknya. Mereka diketahui mengontrak rumah di Desa Sumberadi, Kecamatan Mlati tersebut sejak Februari lalu.
"Baru sekitar 5 bulan di sini. Saiful jualan martabak dan istrinya jual bakso tusuk di dekat toko jejaring (sekitar 100 meter dari rumah kontrakan)," kata Ketua Rt 5/35 Bedingin Wetan, Purnawirawan (Ipda) Sumarjono saat ditemui di rumahnya, Rabu (11/7).
Penggeledahan di rumah kontrakan itu dilakukan sekitar 1 jam. Oleh 20-an anggota polisi berpakaian preman dengan membawa senjata api lengkap. "Seragamnya memakai preman semua. Saya diminta untuk menyaksikan," ujarnya.
Setelah dilakukan penggeledahan didapati beberapa barang yang dibawa. Diantaranya 1 unit mobil Kijang, 1 sepeda motor, busur panah, pedang dengan panjang 1 meter, pisau sangkur. "Buku-buku, laptop, kertas fotokopian, dan handphone," ungkap pria yang sebelum pensiun berdinas di Polresta Jogjakarta ini.
Dari pantauan di lokasi, rumah yang dikontrak hanya terlihat gerobak bakso tusuk saja. Pihak kepolisian juga sudah memasang garing polisi yang mengitari rumah milik warga bernama Pramono itu.
Data yang didapatkan di lapangan diketahui Saefulloh tinggal bersama istri dan 3 anaknya. Selain itu juga masih ada seorang anaknya lagi, namun sudah tinggal berpisah.
Imah, 40, istri dari Pramono mengatakan, ia tak terlalu mengetahui mengenai Saefulloh. Namun keberadaannya masih ada waktu Selasa (10/7) malam. Kemudian pada paginya, sudah tidak ada. Baik istri maupun anak-anaknya juga. "Kalau tadi malam masih ada, saya tidak terlalu tahu. Jarang bertemu (Saefulloh)," katanya.
Ridwan Dwi Utomo, 22, tetangga dekat dari rumah kontrakan Saefulloh mengatakan, ada sekitar 5 orang yang datang ke kontrakan Saefulloh pada pukul 10.00 WIB. Saat akan mencari tahu, ia pun malah ditanyai keperluannya apa.
"Saya malah ditanyai, ada keperluan apa. Kalau tidak ada keperluan disuruh masuk ke rumah dan tidak boleh mendekat," ucapnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
