
Pedagang cabai melayani pembeli di Pasar Keputran Surabaya. Alfian Rizal/JawaPos
JawaPos.com–Memasuki hari kedua masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berlevel, harga beragam komoditas pokok di Jawa Timur (Jatim) masih fluktuatif. Utamanya harga cabai.
Harga cabai rawit di pasaran kian mengalami penurunan. Penyebabnya beragam. Berdasar data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo), harga rata-rata cabai rawit di Jatim Rp 15.851 per kilogram.
Wakil Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jatim Nanang Triatmoko mengatakan, harga cabai rawit sempat menyentuh angka Rp 6.000 sampai Rp 7.000 per kilogram. Harga tersebut pada tingkatan para produsen atau petani. Kini harga cabai sudah berangsur meningkat, meski tak begitu signifikan.
”Harga naik, tapi sedikit. Kalau saat ini, Rp 9000 per kilogram,” ujar Nanang pada Selasa (7/9).
Salah satu penyebab turunnya harga cabai rawit adalah hasil produksi yang melimpah. Selain itu, dampak PPKM darurat maupun berlevel seperti saat ini.
Beberapa daerah yang sedang panen, antara lain Banyuwangi dan Madura. Wilayah-wilayah itu akan mengalami puncak panen pada Oktober. Nanang berharap, PPKM segera berakhir. Sehingga sektor ekonomi bisa berjalan normal.
Selama PPKM, serapan bahan pokok hanya sekitar 50 persen. Karena rata-rata hotel, restoran, dan kafe (horeka), hingga PKL tutup. ”Kalau ini (kondisi) terus berlangsung, bisa dipastikan harga cabai rawit pada puncak panen makin anjlok,” terang Nanang.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Hadi Sulistyo menegaskan, produksi cabai rawit pada September diperkirakan mencapai 33.736 ton dan Oktober 22.447 ton. Secara umum, sampai akhir Desember, produksi cabai rawit selama setahun mencapai 426.571 ton. Sedangkan, untuk konsumsi pangan setahun, sekitar 66.958 ton. ”Maka, neraca pada 2021 surplus 359.613 ton,” tutur Hadi Sulistyo.
Namun, produksi cabai besar pada September diperkirakan 9.039 ton dan Oktober 7.189 ton. Hingga akhir Desember, produksi cabai besar selama setahun mencapai 96.914 ton dengan konsumsi untuk pangan setahun 64.883 ton.
”Kalau terkait harga yang turun, kemungkinan karena hasil produksi yang meningkat. Neraca pada 2021 surplus 32.031 ton,” papar Hadi Sulistyo.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
