Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 September 2021 | 03.52 WIB

Dampak Pembatasan Restoran dan Rumah Makan Tutup, Harga Cabai Anjlok

Pedagang cabai melayani pembeli di Pasar Keputran Surabaya. Alfian Rizal/JawaPos - Image

Pedagang cabai melayani pembeli di Pasar Keputran Surabaya. Alfian Rizal/JawaPos

JawaPos.com–Memasuki hari kedua masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berlevel, harga beragam komoditas pokok di Jawa Timur (Jatim) masih fluktuatif. Utamanya harga cabai.

Harga cabai rawit di pasaran kian mengalami penurunan. Penyebabnya beragam. Berdasar data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo), harga rata-rata cabai rawit di Jatim Rp 15.851 per kilogram.

Wakil Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jatim Nanang Triatmoko mengatakan, harga cabai rawit sempat menyentuh angka Rp 6.000 sampai Rp 7.000 per kilogram. Harga tersebut pada tingkatan para produsen atau petani. Kini harga cabai sudah berangsur meningkat, meski tak begitu signifikan.

”Harga naik, tapi sedikit. Kalau saat ini, Rp 9000 per kilogram,” ujar Nanang pada Selasa (7/9).

Salah satu penyebab turunnya harga cabai rawit adalah hasil produksi yang melimpah. Selain itu, dampak PPKM darurat maupun berlevel seperti saat ini.

Beberapa daerah yang sedang panen, antara lain Banyuwangi dan Madura. Wilayah-wilayah itu akan mengalami puncak panen pada Oktober. Nanang berharap, PPKM segera berakhir. Sehingga sektor ekonomi bisa berjalan normal.

Selama PPKM, serapan bahan pokok hanya sekitar 50 persen. Karena rata-rata hotel, restoran, dan kafe (horeka), hingga PKL tutup. ”Kalau ini (kondisi) terus berlangsung, bisa dipastikan harga cabai rawit pada puncak panen makin anjlok,” terang Nanang.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Hadi Sulistyo menegaskan, produksi cabai rawit pada September diperkirakan mencapai 33.736 ton dan Oktober 22.447 ton. Secara umum, sampai akhir Desember, produksi cabai rawit selama setahun mencapai 426.571 ton. Sedangkan, untuk konsumsi pangan setahun, sekitar 66.958 ton. ”Maka, neraca pada 2021 surplus 359.613 ton,” tutur Hadi Sulistyo.

Namun, produksi cabai besar pada September diperkirakan 9.039 ton dan Oktober 7.189 ton. Hingga akhir Desember, produksi cabai besar selama setahun mencapai 96.914 ton dengan konsumsi untuk pangan setahun 64.883 ton.

”Kalau terkait harga yang turun, kemungkinan karena hasil produksi yang meningkat. Neraca pada 2021 surplus 32.031 ton,” papar Hadi Sulistyo.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore