alexametrics
Polemik Lagu Indonesia

Menikmati Sensasi Berkuda di Megastar

4 Februari 2019, 05:30:22 WIB

JawaPos.com – Bagi anda yang merencanakan berlibur ke Kota Batu dan ingin menikmati wisata alam sekaligus berolahraga, sepertinya wisata Peternakan Kuda Megastar bisa menjadi pilihan. Selain bisa berfoto dengan kuda-kuda beraneka jenis, wisatawan juga bisa merasakan sensasi menunggangi kuda.

Wana wisata yang berada di Junrejo, Batu, Malang atau tepatnya berada di jalur lingkar barat Desa Oro-Oro Ombo itu awalnya merupakan tempat penangkaran kuda dengan konsep silvopastur (Perbaduan aktivitas kehutanan dengan peternakan) yang menampung kuda-kuda lokal. Namun, seiring berjalannya waktu, kuda dengan taraf internasional pun juga menjadi koleksi dan penghuni tempat tersebut. Lama-lama, Peternakan Kuda Megastar juga menjadi salah satu objek wisata favorit yang ada di Malang.

Owner wisata Peternakan Kuda Megastar Boedianto Pangestu mengatakan, pada tahun 2013 lalu tempat ini merupakan peternakan kuda. Pihaknya pun mulai membuat kandang untuk kuda-kuda tersebut. Dari situ, mulai banyak wisatawan yang berkunjung. 

Menikmati Sensasi Berkuda di Megastar
Saat ini setidaknya total ada 51 ekor kuda dengan berbagai jenis yang berada di peternakan tersebut. Antara lain jenis Kuda Friesian, Warmblood, Thoroughbred, dan persilangan. (dok. Megastar for JawaPos.com)

Hingga pada tahun 2014, mantan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko (ER) pun menjadikan tempat ini sebagai destinasi wisata yang semakin memperkaya tempat wisata di Kota Batu serta berbasis alam dan minat khusus. “Dulu Pak ER sering ke sini. Kemudian dibuka sebagai tempat wisata,” ujarnya pada JawaPos.com, Minggu (3/2).

Dia mengatakan, saat ini setidaknya total ada 51 ekor kuda dengan berbagai jenis yang berada di peternakan tersebut. Antara lain jenis Kuda Friesian, Warmblood, Thoroughbred, dan persilangan. 

Dia menerangkan, kuda Friesian merupakan kuda tunggang yang didatangkan dari Perancis. Selanjutnya untuk jenis kuda Warmblood biasanya untuk jumping dan keserasian, berasal dari Jerman dan Denmark. “Kalau Thoroughbred itu kuda pacu dari Amerika, Australia,” imbuh pria asli Jogja itu. 

Wana wisata ini mempunyai dua sirkuit yang menjadi lapangan pacuan kuda. Pertama yang mempunyai luas 60 x 50 meter persegi seperti lapangan kecil. Sementara sirkuit yang kedua yakni mempunyai luas 100 x 100 meter persegi. 

Bapak lima anak itu menjelaskan, kedua sirkuit tersebut sama-sama bisa digunakan untuk menunggang kuda bagi wisatawan yang ingin menjajal sensasi berkuda. “Untuk lapangan kecil, 4 kali putaran dihargai Rp 40 ribu. Kalau 30 menit Rp 150 ribu,” kata pria 53 tahun itu. 

Dari 51 ekor kuda, 15 diantaranya merupakan kuda tunggang. Saat berkuda, wisatawan juga akan didampingi oleh pelatih yang sudah berpengalaman. 

Bila tidak berani menunggang kuda, wisatawan bisa berswafoto dengan kuda-kuda tersebut. Tidak perlu khawatir, kuda-kuda di peternakan ini semuanya sudah jinak. “Kuda-kuda ini sudah diajari berinteraksi sejak kecil,” jelasnya. 

Selain dibuka untuk wisatawan, pihaknya juga membuka Riding School atau sekolah berkuda bagi anak-anak yang ingin belajar berkuda. Mereka akan mendapat pelatihan dari pelatih profesional. 

Di peternakan ini juga terdapat kuda-kuda koleksi beberapa pejabat. Bahkan, kuda milik ER juga ada yang ditempatkan di peternakan ini.

Selain bisa menjajal sensasi berkuda, wana wisata ini juga menyediakan hamparan perkebunan bunga matahari yang bermekaran. Pengunjung pun bisa sepuasnya berswafoto dengan latar belakang bunga matahari seluas 1 hektare.

Wana wisata ini pun cukup ramai dikunjungi wisatawan pada akhir pekan, khususnya hari Sabtu. Bahkan, peternakan ini juga pernah dikunjungi oleh 2.000 wisatawan per hari.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : Fiska Tanjung

Menikmati Sensasi Berkuda di Megastar