
TAK ADA DUANYA: Log Zhelebour menduduki tumpukan sound system miliknya di kawasan Sukomanunggal, Surabaya. Kiprah Log sebagai promotor musik rock sulit dicari tandingannya. (RIANA SETIAWAN/JAWA POS)
Surabaya pernah menjadi barometer musik rock di era 1980-an hingga 1990-an. Banyak musisi atau band yang memainkan musik cadas lahir di Kota Pahlawan. Sebut saja Grass Rock, Power Metal, Boomerang, hingga Andromeda.
FARID S. MAULANA, Surabaya
---
Banyaknya event musik yang selalu ada tiap minggunya membuat geliat anak muda untuk berkarya sangat besar. Bahkan, band-band Surabaya yang ’’menaklukkan ibu kota’’ seperti Padi hingga Dewa 19 juga lahir dari antusiasme masyarakat Surabaya terhadap musik yang sangat besar. Venue bertebaran dan mudah diakses untuk menggelar sebuah pertunjukan musik.
Berkembangnya musik rock di Surabaya juga tidak terlepas dari tangan dingin mantan promotor sekaligus produser musik legendaris Log Zhelebour. Kurang lebih empat dekade mulai akhir 1970-an, pria yang lahir pada 16 Maret 1959 itu berperan penting bagi perkembangan musik rock di tanah air dan khususnya Surabaya.
Melalui festival musik rock Log Zhelebour yang dihelatnya, banyak band hebat lahir. Belum lagi perjuangannya mendatangkan band-band mancanegara. Sebut saja Sepultura hingga White Lion.
Tak sekadar membuat band cadas internasional itu tampil, Log juga memberikan kesempatan kepada band lokal sebagai pembuka. Tujuannya adalah saling berbagi ilmu dan pengalaman. ’’Dulu saat mendatangkan White Lion, band pendampingnya Jamrud,’’ tutur alumnus SMA St Louis Surabaya itu.
Venue-venue besar macam Stadion Gelora 10 November digunakan. Puluhan ribu penonton datang. Tidak hanya menggelar konser di Surabaya, Sepultura, misalnya, diajaknya untuk tur ke beberapa kota di Jawa. ’’Ya karena musik rock dengan lirik yang keras laris manis digandrungi,’’ kata Log.
Log menuturkan, saat itu untuk menggelar konser musik rock, ekosistemnya sangat bagus. Sponsor dari produsen rokok mudah didapat. Sewa venue dan keamanan tidak semahal sekarang. ’’Surabaya saja contohnya. Sekarang, mana venue yang murah dengan kapasitas besar? Hampir tidak ada. Ada pun kecil, tapi mahal,’’ ungkap Log.
Selain itu, hubungan baiknya dengan beberapa media besar, salah satunya Jawa Pos, menjadi alasannya. Log bisa mempromosikan konser dan album band didikannya dengan mudah. ’’Wah, sama wartawan itu seperti teman sendiri. Sering kumpul, mereka sering datang ke rumah saya. Entah cari berita atau sekadar cangkruk,’’ kata suami Novianda Antasari tersebut.
Tapi, sekarang Log tidak seperti dulu. Usia yang sudah tak lagi muda membuatnya berhenti memproduksi konser musik rock. Dia memilih menikmati hari tua sambil terus memproduksi album musik rock dari beberapa band yang masih dipegangnya. Sebut saja Kobe hingga Jamrud.
Di luar itu, zaman berubah seiring bergulirnya waktu. Model promosi yang dulu diterapkan Log mungkin sekarang kurang efektif menggaet pasar. Pandemi Covid-19 juga membuat promosi on the spot atau lewat rangkaian tur tertahan. Sementara itu, promosi melalui dunia digital juga butuh penyesuaian yang tidak sebentar. ’’Sekarang semuanya serbadigital, tidak lagi fisik dan promosi besar-besaran seperti dulu,’’ beber Log.
Tapi, Log masih yakin, rock bisa kembali berjaya. Salah satu caranya adalah kembali bersatu. Saling mengapresiasi. ’’Era saya dulu, para penggemar rock itu bersatu. Tidak pakai komunitas-komunitas seperti sekarang. Kalau mau berjaya, ya harus bersatu mendukung yang memang layak,’’ ujar ayah Dean Alonso itu.
Soal Surabaya, pria yang sempat dijuluki Raja Festival Rock tersebut masih sangat yakin dengan potensi musiknya. Konser dan musisi rock bisa kembali lahir. ’’Syaratnya, harus ada orang yang nekat seperti saya lagi. Yang mau berdarah-darah untuk musik rock,’’ ucapnya. (c7/dra)
