
EJAAN LAMA: Koran Java Post edisi Selasa, 11 Juli 1950, yang menjadi salah satu koleksi Ravando Lie. (RAVANDO LIE)
Bagi Vando, sapaan Ravando Lie, meneliti sejarah koran Jawa Pos punya tantangan tersendiri. Dia bahkan pernah melakukan riset untuk menelisik sejarah kelahiran koran yang di awal terbit bernama Java Post itu.
”TAMPILANNYA sangat eye-catching kan,” ucap Ravando Lie kepada Jawa Pos ketika memamerkan koleksi tiga lembar koran Java Post edisi 1950. Saking lamanya, warna kertas koran itu telah menguning. Koleksi itu dia temukan saat memulai riset di Jogja Library Center.
Tulisan Java Post tercetak tebal dengan font Latin. Di belakang cetakan tulisan itu tergambar peta Jawa Timur. Untuk ukuran koran di tahun itu, kata Vando, tata letak Jawa Pos sudah terbilang maju. Desain penataan memudahkan pembaca memilih berita mana yang akan dilahap lebih dulu. ”Bahasanya pun khas, ringan, dan mudah dipahami,” tutur pengajar Departemen Ilmu Sejarah UGM itu.
Vando meriset cikal bakal Jawa Pos pada 2021. Dia menemukan sebuah iklan kecil di koran Sin Po edisi 21 Juni 1949. Iklan itu menyebut bahwa pada 24 Juni 1949 akan terbit koran baru bernama Java Post di Surabaya. Selang dua hari kemudian, Java Post diresmikan pada 26 Juni 1949.
Peresmian Java Post bertempat di sebuah gedung bekas Bank Taiwan di Jalan Kembang Jepun, Surabaya. Acara yang berlangsung malam itu dihadiri ratusan tamu penting. Di antaranya, Residen Surabaya A.M. van Liere, Pimpinan Sementara Parlemen Jatim Djoewito, dan Wali Kota Surabaya Indra Kasoema.
Koran berbahasa Belanda De Vrije Pers pada 27 Juni 1949 memberitakan pembu kaan itu dengan tajuk ”Receptie Java Post”. Di akhir tulisan, salah satu koran terkemuka berbahasa Belanda itu bahkan menyebut Java Post akan menjadi aset berharga di Jatim.
Vando memaparkan, Java Post kala itu sebenarnya koran edisi Indonesia dari Chinese Daily News (HuaChiao Hsin Wen). Sebuah koran berbahasa Tionghoa yang terbit di Surabaya pada
1946. Atau tiga tahun sebelum Java Post terbit. Meski menjadi versi Indonesia-nya, Java Post tak sekadar menyalin dan menerjemahkan Chinese Daily News.
Java Post didirikan The Chung Sen (Suseno Tedjo), seorang pengusaha kelahiran Bangka Belitung. Dia semula bekerja sebagai akuntan di perusahaan New China di Jalan Gula, Surabaya. Pengalaman sebagai akuntan membuat The Chung Sen memiliki kemampuan
manajerial.
Vando menilai, kemunculan Java Post ini menjadi strategi jitu The melihat peluang. Sebab, pada era kolonial, Surabaya menjadi salah satu pusat diseminasi pengetahuan. ”Pada masa itu, surat kabar memainkan peran yang begitu signifikan sebagai katalisatornya,” katanya.
Situasi itu tidak berubah pasca kemerdekaan. Bahkan bisa dibilang terus menguat. Ketika periode perang mempertahankan kemerdekaan (1945–1949), Surabaya menjadi salah satu sentra perjuangan yang penting. Keberadaan surat kabar menjadi begitu krusial sebagai medium komunikasi kepada masyarakat.
”Dan di situasi semacam itu, Pak The membuat keputusan unik, cukup berani, sekaligus gambling dengan mendirikan koran,” terang doktor sejarah University of Melbourne, Australia, itu.
Vando mencatat, meski sebagai koran baru, Java Post mempunyai sikap kritis. Terbukti saat dipimpin Goh Tjing Hok, beberapa tulisan membuat dia harus berurusan dengan pihak keamanan. Pun saat kepemimpinan redaksi dijabat Thio Oen Sik (Seyono). Tulisan kritis terus bermunculan dalam sajian koran.
Puncak sikap kritis itu berbuah intimidasi nyata. Pada 2 Februari 1956, sekitar 30 polisi berseragam preman dan bersenjata mengobrakabrik kantor Java Post di Jalan Kembang Jepun. Serangan itu buah dari sikap Java Post yang mengkritik kinerja polisi.
”Meski mendapat teror, sikap Java Post saat itu tetap berpegang teguh pada kebenaran,”
terang pria kelahiran 3 Juni 1988 itu.
Kini, di tengah menyelesaikan tugas postdoctoral sebagai John Legge Fellow di Monash University, Australia, Vando masih menyimpan rasa penasarannya untuk mengulik sejarah
Jawa Pos. Sebagai orang yang bergelut di dunia penelitian sejarah, hatinya masih belum tenang. Utamanya soal menemukan edisi pertama koran Java Post. Sebab, dia baru menemukan bahwa Java Post diiklankan pada 24 Juni 1949. Kemudian diresmikan pada
26 Juni. Namun, dirayakan kelahirannya pada 1 Juli. ”Minggu depan saya balik ke Indonesia. Saya akan ke Perpustakaan Nasional. Akan saya cari yang benar yang mana,” ucapnya, lantas tertawa. (*/c19/oni)

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
