
Photo
JawaPos.com - FIFA menginstruksikan Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI dipercepat menjadi 16 Februari 2023.
Seharusnya, ini menjadi momentum untuk merevolusi persepakbolaan tanah air yang karut-marut. Nirprestasi.
Puncaknya adalah pecahnya insiden sangat memilukan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, yang menyebabkan 135 nyawa melayang.
Sudah sangat lama pencinta sepak bola tanah air menginginkan agar PSSI diurus oleh orang-orang yang betul-betul kredibel. Fokus memikirkan bagaimana memajukan persepakbolaan nasional.
Bukan mereka-mereka yang hanya menjadikan jabatan di PSSI sebagai batu loncatan untuk ambisi politik atau kepentingan lainnya yang tak sejalan dengan upaya memajukan sepak bola itu sendiri.
Keinginan itu selama puluhan tahun terakhir cuma sebatas mimpi. Berkali-kali berganti kepengurusan, sepak bola Indonesia tak juga berprestasi.
Hanya sarat kontroversi. Di kancah SEA Games, kali terakhir Indonesia menjadi juara pada 1991 silam. Di ajang Piala AFF (sebelumnya bernama Tiger Cup), belum sekali pun timnas kita berhasil menjadi juara.
Sejak dihelat pada 1996, Indonesia mencatatkan ’’rekor’’ dengan enam kali menjadi runner-up. Cuma di kelompok umur Indonesia beberapa kali menjadi yang terbaik. Itu pun baru di level ASEAN.
Catatan timnas itu juga selaras dengan klub-klub tanah air. Karena belum diurus sebagaimana mestinya klub profesional serta kompetisi yang belum dijalankan sesuai standar, klub-klub Indonesia tidak bisa berbuat banyak di kompetisi Asia. Gagal bersaing.
Karena nilai koefisien klub-klub Indonesia yang berlaga di kancah Asia empat tahun belakangan sangat rendah, lagi-lagi belum ada klub yang bisa berlaga langsung di babak penyisihan grup Liga Champion Asia.
Pada 2023, Indonesia mendapat jatah satu wakil ke Liga Champion Asia (tapi dari babak playoff) dan dua wakil ke kasta kedua kompetisi Asia, Piala AFC (satu klub langsung ke babak penyisihan grup dan satu klub ke fase playoff dulu).
Klub ’’tetangga sebelah’’, Johor Darul Ta’zim (Malaysia), pada 2015 berhasil mengukir sejarah menjadi juara Piala AFC. Prestasi terbaik klub Indonesia di Piala AFC adalah menjadi semifinalis yang dicatatkan Persipura pada 2014.
Nah, salah satu upaya (ingat, salah satu ya) untuk memajukan prestasi sepak bola Indonesia adalah kepengurusan PSSI harus diisi oleh orang-arang yang kredibel.
Persoalannya, jajaran exco PSSI (termasuk ketua dan wakil ketua umum) pada KLB 16 Februari akan dipilih oleh para voter yang selama ini terbukti berkali-kali ’’salah pilih’’.
Lalu, bagaimana caranya agar pada KLB nanti bisa terpilih sosok-sosok yang dapat diharapkan untuk membawa perubahan? Tidak lu lagi, lu lagi.
Ada satu cara yang bisa dilakukan. Dan yang bisa melakukannya adalah suporter. Pihak yang selama ini sering sekali ’’tersakiti’’.
Kenyang (sampai muntah-muntah) disuguhi segala macam ’’dagelan’’ di lapangan hijau. Dan suporter adalah pihak yang berteriak paling lantang terkait perubahan di kepengurusan federasi.
Kongres Tahunan PSSI 2021 diikuti 87 voter. Mereka berasal dari 34 Asosiasi Provinsi (Asprov), 18 klub Liga, 16 klub Liga 2, 16 klub Liga 3, Asosiasi Futsal Indonesia, Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia, dan Asosiasi Pelatih Indonesia.
Jumlah voter yang sama akan mengikuti KLB pada 16 Februari nanti. Artinya, mayoritas voter di kongres adalah kalangan klub (50 klub). Jumlah yang akan sangat menentukan komposisi exco PSSI yang terpilih.
Sudah pasti klub-klub itu punya suporter. Melihat dinamika persepakbolaan tanah air selama ini, suporter tentu sudah punya gambaran nama-nama yang dianggap kredibel untuk mengurusi PSSI.
Nama-nama itulah yang bisa diajukan dan didiskusikan dengan pihak klub masing-masing.
Dari sana kemudian bisa dibikin ’’kontrak politik’’ antara suporter dan manajemen klub. Isinya tentu saja di KLB nanti perwakilan klub harus memilih calon exco (termasuk Ketum dan Waketum) yang sudah disepakati bersama.
Bagaimana nanti kalau ternyata perwakilan klub wanprestasi alias tidak melaksanakan apa yang sudah menjadi kesepakatan? Soal ini tentu suporter sudah sangat paham apa yang harus dilakukan. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
