
Setiap harinya, sekitar 20 truk disiagakan untuk mengangkut sampah menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang sehingga penumpukan bisa terurai. (ANTARA)
JawaPos.com – Volume sampah di wilayah Jabodetabek meningkat setelah libur panjang Idulfitri. Di sejumlah kawasan, sampah terlihat menumpuk di permukiman, Tempat Penampungan Sementara (TPS), hingga ruang terbuka publik akibat tingginya aktivitas konsumsi masyarakat selama Lebaran, terutama dari limbah rumah tangga dan kemasan sekali pakai.
Kondisi ini kembali menyoroti persoalan pengelolaan sampah yang belum optimal. Pemilahan dari sumber masih terbatas, kapasitas pengangkutan belum sebanding dengan volume timbulan, dan fasilitas pengolahan sampah masih minim. Akibatnya, sebagian besar sampah tetap berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan meningkatkan tekanan terhadap lingkungan.
Secara nasional, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat timbulan sampah Indonesia mencapai sekitar 26 juta ton per tahun. Sebagian besar masih ditangani melalui penimbunan di TPA, bahkan di beberapa daerah masih menggunakan metode open dumping yang berisiko mencemari lingkungan.
Menanggapi kondisi tersebut, Sekretaris Jenderal Prabu Peduli Lingkungan, Rido Satriyo, menilai percepatan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Jabodetabek perlu segera direalisasikan.
"Fasilitas tersebut dapat membantu mengurangi ketergantungan pada penimbunan sampah sekaligus memanfaatkan limbah sebagai sumber energi," ujarnya.
RIdo menekankan bahwa pelaksanaan proyek PSEL perlu dilakukan secara transparan dan akuntabel, dengan pengawasan emisi yang ketat serta edukasi pemilahan sampah dari sumber. "Penertiban TPS liar dan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat juga penting untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah di wilayah perkotaan," tutupnya.
