JawaPos.com - Peningkatan layanan dilakukan oleh PT Transportasi Jakarta (Transjakarta). Kali ini, perusahaan Pemprov DKI Jakarta ini memperkuat transformasi digital layanan transportasi publik melalui pemanfaatan teknologi berbasis data dan kecerdasan buatan. Dengan begitu sistem operasional lebih adaptif, efisien, dan terintegrasi.
Dalam hal ini, Transjakarta menerapkan SYNTRA sistem operasional terintegrasi yang dikembangkan dan dioperasikan secara internal. Sistem ini mengelola armada dan layanan secara menyeluruh.
Direktur Teknologi Informasi dan Pelayanan Transjakarta, Raditya Maulana Rusdi mengatakan, sistem ini dirancang untuk mendukung orkestrasi operasional skala besar di Jakarta. Selain itu, menjadi model pengembangan transportasi berbasis data bagi kota-kota lain di Indonesia.
“Melalui pemanfaatan data dari aplikasi, kami tidak hanya meningkatkan kualitas layanan harian, tetapi juga membangun pemahaman yang lebih dalam terhadap dinamika pergerakan kota. Ini memungkinkan kebijakan operasional yang lebih adaptif dan berbasis kebutuhan riil masyarakat,” ujar Raditya, Minggu (30/11).
Di sisi operasional, SYNTRA berfungsi sebagai platform yang mengintegrasikan berbagai proses penting, mulai dari perencanaan layanan, penjadwalan armada dan pramudi, monitoring operasional secara real-time, hingga analisis performa layanan lintas rute. Sistem ini terhubung dengan infrastruktur Command Center, data pelanggan, jaringan pengawasan operasional, serta berbagai sensor dan modul kecerdasan buatan yang mendukung pengambilan keputusan secara cepat dan akurat.
Sistem ini bisa membuat pendekatan Transjakarta berubah dari pendekatan reaktif menjadi prediktif dan adaptif. Dengan pemanfaatan data secara end-to-end, Transjakarta kini dapat merespons dinamika operasional secara lebih presisi, mengoptimalkan layanan, serta meningkatkan konsistensi kualitas layanan di seluruh jaringan.
SYNTRA juga membawa dampak lebih luas bagi Transjakarta. Sebab, operasional menjadi lebih efisien. Lalu aspek keselamatan meningkat dan layanan semakin stabil.
Lebih jauh, data yang dihasilkan dari sistem ini menjadi fondasi strategis dalam mendukung perencanaan transportasi jangka menengah dan panjang, integrasi dengan inisiatif smart city, serta penyusunan kebijakan berbasis bukti dalam pengelolaan transportasi publik dan mobilitas perkotaan.
“Kami meyakini bahwa transformasi transportasi publik bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang bagaimana membangun sistem yang mampu beradaptasi dengan karakter setiap kota. Kami terbuka untuk berbagi pengalaman dan pembelajaran implementasi ini dengan pemerintah kota lain yang memiliki visi serupa terhadap masa depan transportasi publik,” tutup Raditya.