
Wagub DKI Jakarta, Rano Karno, mengapresiasi karya-karya siswa SMK yang dipamerkan di Lantai 2 Co-working Space dan Ruang Gerai Produk SMK, Kantor Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Senin (29/9).(IST)
JawaPos.com - Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memantik perhatian para pemangku kebijakan di Jakarta. Dalam laporan World Urbanization Prospects 2025: Summary of Results yang dirilis 23 November 2025, Jakarta disebutkan sebagai kota terpadat di dunia dengan populasi hampir 42 juta jiwa.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyebutkan, temuan itu membuatnya terkejut. Sebab, berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Jakarta hanya sekitar 11 juta jiwa.
“Jujur, kami juga agak confused ya. Mungkin Jakarta dihitung menjadi bagian dari Aglomerasi. Mungkin itu dihitung dari Depok, Bekasi, kemudian Bogor. Makanya, tiba-tiba populasi Jakarta sampai 42 juta. Wow, kami juga terkejut,'' terang Rano di Balai Kota, Jakarta Pusat, Sabtu (30/11).
Meski begitu, Rano menilai temuan PBB tersebut memberi sinyal bahwa Jakarta masih menjadi pusat pembangunan di wilayah Jabodetabek. ''Ini mengindikasikan Jakarta menjadi ujung tombak pembangunan kependudukan di wilayah Jabodetabek ini,'' tambahnya.
Lebih lanjut, politikus PDI Perjuangan itu mengakui, Jakarta tidak bisa sendiri mengatasi dampak dari banyaknya jumlah penduduk tersebut. ''Tentu ini harus kesadaran dari semua teman-teman di daerah. Nggak mungkin Jakarta bisa sendiri, gitu loh,'' katanya.
Terpisah, Ketua DPRD DKI Jakarta Khoirudin menilai perbedaan antara data PBB dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) DKI maupun BPS itu menggambarkan tingginya mobilitas masyarakat keluar masuk ibukota.
''Saya baru-baru ini diskusi dengan gubernur tentang ERP (Electronic Road Pricing atau jalan berbayar) dimana akan diterapkan di Jalan Sudirman-Thamrin,'' terangnya.
Menurut Khoirudin, penerapan ERP itu seharusnya tidak hanya dilakukan di dalam kota. Melainkan, jalan-jalan yang berbatasan dengan daerah penyangga.
“Kalau mau membatasi kendaraan, bukan di dalam Jakarta. Tapi di pintu masuk dari timur, barat, selatan harus bayar. Tapi kita harus siapkan angkutan umum yang memadai supaya mereka tetap bisa masuk Jakarta tanpa menambah macet dan polusi,” katanya.
Khoirudin juga menyinggung tantangan sosial akibat besarnya populasi di kawasan Jabodetabek. “Jumlah penduduk yang besar memang menambah masalah sosial. Tapi di sisi lain, itu juga sumber rezeki karena perputaran ekonomi terjadi ketika orang banyak,'' jelasnya.
Dia mencontohkan keraguan investor untuk menanamkan modal di Ibu Kota Nusantara (IKN). “Ketika diminta penduduk 5 juta agar ekonomi berputar, mereka (IKN) tidak sanggup. Kalau tidak mencapai jumlah itu, ekonomi tidak akan berjalan lancar,” katanya.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
