
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (kanan) bersama Kepala Bapenda DKI Jakarta Lusiana Herawati (Kiri) di Balai Kota Jakarta. (Istimewa)
JawaPos.com - Setelah sepekan ledakan di SMAN 72 Jakarta, Gubernur DKI Pramono Anung akhirnya buka suara terkait kejadian tersebut. Pram membantah kejadian itu disebabkan adanya diskriminasi atau bullying di sekolah tersebut.
“Jadi, persoalan di (SMAN) 72 kan banyak orang berspekulasi. Ini tidak ada hubungan sama sekali dengan diskriminasi. Tidak ada sama sekali dengan intoleransi. Karena yang melakukan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan itu,” terang Pramono.
Hal itu disampaikan Pramono setelah mendapatkan banyak informasi. Utamanya, dari anak-anak SMAN 72 Jakarta. “Mereka (Peserta didik, Red) membantah, tidak benar adanya bullying,” kata Pramono.
Politisi PDI Perjuangan itu juga turut membenarkan hal itu setelah melihat video CCTV dari lokasi sekitar kejadian. Dia melihat video bahwa pelaku memasang tujuh bahan peledak dengan persiapan yang mumpuni.
“Saya yakin pasti itu terinspirasi, terpengaruh apa yang dia tonton,” jelasnya.
Dia meyakini hal itu juga setelah melihat langsung kondisi pelaku pasca kejadian ledakan. Ditambah lagi latar belakang keluarga pelaku yang memang kurang harmonis.
“Setelah kejadian, saya sempat lihat walaupun tidak sadar pelakunya. Tapi pelakunya ini, ya keluarganya antara bapak ibunya terpisah. Selama ini dia hidup dengan ayahnya. Ayahnya pun kan chef, sibuk. Tapi kalau melihat dari tujuh bom yang dipersiapkan dan kemudian cara dia membawa, kemudian pakaian kayak rambo (perang, Red) dan sebagainya, ya mungkin ini pengaruh dari Youtube atau media sosial,” jelasnya.
Dengan minimnya pengawasan orang tua dan tingginya pengaruh media sosial itu, Pramono mengaku sudah memerintah Kepala Dinas Pendidikan DKI Nahdiana untuk antisipasi. Dengan begitu, apa yang ditonton peserta didik ke depannya tidak dengan mudah menjadi bahan aspirasi.
“Nah yang seperti itulah yang kemudian saya sudah meminta kepada kepala Dinas Pendidikan untuk dilakukan pendidikan dan pencegahan. Karena yang seperti itu dampaknya sangat tidak baik,” tambahnya.
Saat ditanyakan kelanjutan masa depan pelaku yang sudah ditetapkan jadi Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH), Pramono tidak menjawab secara lugas. Dia hanya memerintahkan Disdik DKI untuk antisipasi. Sementara pelaku saat ini sedang duduk di kelas XII, yang artinya akan segera lulus.
“Untuk hal-hal yang berkaitan dengan apa yang dipelajari oleh tadi, anak yang kemudian tersangkut persoalan hukum itu dilakukan pencegahan. Karena dia kan terinspirasi dari itu,” kata Pram.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
