Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Oktober 2025 | 01.25 WIB

Inflasi Jakarta September 2025 Terjaga Berkat Penurunan Harga Tomat dan Bawang

Ilustrasi bawang  merah. (Dok Jawa Pos) - Image

Ilustrasi bawang merah. (Dok Jawa Pos)

JawaPos.com–Inflasi Jakarta pada September 2025 tercatat lebih rendah dibandingkan nasional. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), Jakarta membukukan inflasi sebesar 0,13 persen (mtm), lebih rendah dari inflasi nasional yang mencapai 0,21 persen (mtm).

Meski begitu, angka ini naik dibandingkan Agustus 2025 yang mencatat deflasi 0,05 persen (mtm). Secara tahunan (yoy), inflasi Jakarta mencapai 2,40 persen, juga lebih rendah dari inflasi nasional sebesar 2,65 persen. Capaian ini masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan mengungkapkan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau, menjadi penyumbang utama inflasi dengan kenaikan 0,32 persen (mtm). “Kenaikan ini dipicu naiknya harga daging ayam ras, cabai merah, dan beras,” ujar Iwan Setiawan.

Kenaikan harga daging ayam ras disebabkan tingginya biaya pakan dan harga livebird di tingkat produsen. Sementara terbatasnya produksi cabai merah akibat belum masuk masa panen serta naiknya harga gabah di musim tanam ke-3 turut mendorong inflasi bahan pangan.

Namun, tekanan inflasi berhasil ditekan oleh penurunan harga bawang merah dan tomat karena panen raya. Pasokan bawang putih impor dari Tiongkok juga lancar.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga tercatat mengalami inflasi cukup tinggi. Yakni 0,69 persen (mtm), seiring kenaikan harga emas perhiasan yang mengikuti tren global. Sementara kelompok transportasi turut menyumbang inflasi sebesar 0,07 persen (mtm), terutama karena kenaikan tarif angkutan udara.

Sebaliknya, deflasi terjadi pada kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,16 persen (mtm), didorong penurunan harga detergen cair.

Iwan menegaskan, kondisi inflasi yang terkendali tak lepas dari koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta bersama BUMD pangan. Sepanjang September, TPID menjalankan berbagai program seperti pangan bersubsidi, pasar murah, dan bazar keliling. Program urban farming juga digencarkan untuk menjaga pasokan pangan.

“Koordinasi TPID rutin dilakukan setiap Kamis untuk memantau perkembangan harga. Kami juga melakukan studi banding ke Nusa Tenggara Barat guna meningkatkan kapasitas anggota TPID,” tambah Iwan.

Dia juga menyebutkan, Bank Indonesia Jakarta juga memperkuat sinergi dengan Perum Bulog Kanwil Jakarta-Banten, Pasar Jaya, dan PT Food Station Tjipinang Jaya, khususnya dalam distribusi beras program SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan).

Ke depan, sinergi antara Pemprov DKI Jakarta, BI, dan seluruh anggota TPID akan diperkuat melalui strategi 4K. Yakni, Ketersediaan pasokan, Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif. Selain itu, penguatan juga dilakukan melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

“Dengan upaya itu, inflasi Jakarta hingga akhir 2025 diharapkan tetap terjaga dalam rentang sasaran 2,5±1 persen,” tandas Iwan.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore