Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Oktober 2025 | 16.15 WIB

Pakar Ingatkan: MRT Jakarta–Tangsel Bisa Jadi Petaka Jika Pemda Lepas Tangan

Stasiun MRT Monas jadi stasiun dengan travelator pertama di Indonesia. (Masria Pane/Jawapos) - Image

Stasiun MRT Monas jadi stasiun dengan travelator pertama di Indonesia. (Masria Pane/Jawapos)

JawaPos.com - Rencana perluasan jalur MRT Jakarta hingga Banten menuai tanggapan positif dari kalangan transportasi. Namun, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jakarta, Yusa Cahya Permana, mengingatkan agar proyek ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik semata.

Menurutnya, keberhasilan proyek transportasi massal bergantung pada integrasi antar moda dan keterlibatan pemerintah daerah dalam perencanaan kawasan.

"Kalau ini ingin sukses ya harus terintegrasi, Pemdanya tetap harus berpikir bagaimana memasukkan jalur ini sebagai strategi besar pergerakan kawasannya. Ini kan yang sering nggak jalan. Seakan-akan dengan ada satu proyek lalu semua masalah selesai. Nggak bisa," ujar Yusa kepada JawaPos.com beberapa waktu lalu.

Menurutnya, tanpa sistem pengumpan (feeder) yang memadai, MRT sulit menjangkau penumpang dari wilayah sekitar. Ia mencontohkan keberhasilan LRT Jabodebek yang meningkat pesat setelah sistem koneksi dengan kawasan sekitarnya dibenahi.

"Langsung meningkat dari penumpangnya awalnya 40.000 sekarang sudah tembus 100.000. Hal yang sama juga ada di MRT," jelasnya.

Bahkan, lanjut Yusa, proyek MRT Jakarta - Tangsel malah bisa menjadi petaka jika tidak diimbangi dengan feeder yang memadai. Sebab, hanya akan menimbulkan titik kemacetan baru di sekitar area stasiun.

"Misalkan karena orang-orang datangnya dengan kendaraan pribadi di-drop, park and ride, jalannya nggak dilebarkan, nggak ada tempat parkirnya. Yang ada malah mereka nanti makin ruwet di sana. Mungkin (kemacetan) Jakarta-nya agak berkurang karena orang-orangnya nggak naik kendaraan ke Jakarta, tapi rutenya di (Tangsel) sana ruwet, orang jadi malas," ungkapnya.

Lebih jauh, Yusa juga mengingatkan, perluasan jalur MRT tidak serta merta mengurangi penggunaan kendaraan pribadi secara signifikan. Menurutnya, pekerja dari arah Selatan Jakarta tidak hanya dari Tangsel. Tapi banyak yang berasal dari Depok dan Bogor.

Yusa pesimis jika proyek MRT Tangsel dapat mengurangi kendaraan menuju Jakarta di jam sibuk.

"Tapi bisa mengurangi sejauh mana ya itu mungkin enggak terlalu signifikan ya. Karena yang dari arah selatan itu kan tidak hanya dari Tangsel, tapi juga banyak yang dari arah Depok, dari arah Bogor," katanya.

Pemerintah Daerah Jangan Lepas Tangan di Proyek MRT Jakarta - Tangsel

Proyek MRT Lebak Bulus - Serpong rencananya dijalankan melalui skema Business to Business (B to B) dengan menggandeng pengembang Sinar Mas Land melalui PT Bumi Serpong Damai, Tbk.

Dalam hal pendanaan dan pengelolaan, Yusa menilai keterlibatan swasta sah-sah saja. Namun, ia menekankan bahwa infrastruktur transportasi publik tetap harus berada di bawah kendali pemerintah.

"Pada akhirnya segala macam infrastruktur, termasuk ini angkutan kereta, itu adalah milik pemerintah," jelasnya.

Ia mengingatkan, kerja sama dengan pengembang hanya bersifat konsesi sementara, bukan kepemilikan permanen.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore