Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Juli 2025 | 01.34 WIB

Keluar dari 10 Besar Kota Termacet, Pram Akan Lanjutkan Normalisasi Untuk Atasi Banjir

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tampil di forum internasional High-Level Political Forum yang digelar di markas besar PBB, New York, Rabu (16/7). (Istimewa) - Image

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tampil di forum internasional High-Level Political Forum yang digelar di markas besar PBB, New York, Rabu (16/7). (Istimewa)

JawaPos.com - Setelah sepekan di Amerika Serikat untuk menghadiri undangan Forum PBB, Gubernur DKI Pramono Anung mulai aktif kembali memimpin Jakarta, kemarin (22/7). Politisi PDI Perjuangan itu membagikan pengalaman dan wawasannya saat mengunjungi Negeri Paman Sam itu.

Utamanya, saat menjalin komunikasi bilateral dengan beberapa pimpinan kota besar yang juga hadir dalam forum internasional itu. Salah satunya, Kota New York yang memiliki banyak kesamaan dengan Kota Jakarta. Utamanya, populasi penduduk serta aktivitas yang tidak pernah berhenti.

''Dan ketika bilateral, mereka juga menyampaikan problem di New York ternyata tidak lebih ringan daripada problem yang ada di Jakarta,'' ujar Pramono dalam acara Wartalks di Ruang Pola, Grha Ali Sadikin, Balai Kota, Jakarta Pusat, kemarin (22/7).

Meski New York memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang jauh lebih besar dibanding Jakarta, kedua kota metropolitan itu menghadapi persoalan kemacetan yang hampir setara. Luas wilayah New York sekitar 700 kilometer persegi, sedikit lebih besar dari Jakarta yang memiliki luas sekitar 660 kilometer persegi.

Namun, populasi Jakarta jauh lebih padat dengan 11 juta jiwa yang bertambah 4 juta menjadi 15 juta jiwa pada siang hari. Sementara New York berpenduduk sekitar 8 juta jiwa dengan tambahan 5 juta menjadi 13 juta pada siang hari. Sehingga, lanjutnya, hampir apple to apple antara Jakarta dan New York.

''Dulunya, Jakarta itu sama dengan New York selalu 10 besar kota termacet. Jadi, New York itu nomor 2, nomor 1 Brazil, dan Jakarta pasti 10 besar. Sekarang ada survei yang dilakukan oleh TomTom (Traffic Index 2024) Jakarta ada di nomor 90,'' tambah Pram.

Prestasi itu ternyata tidak menjadi perhatian Jakarta, melainkan kota-kota besar di dunia. Sebab, banyak kota besar, termasuk New York mempertanyakan langkah Jakarta bisa mengatasi kemacetan itu.

''Yang awalnya saya mau bertanya, gantian mereka yang bertanya kenapa kok Jakarta bisa melakukan perubahan itu? Persoalan kota metropolitan baik Jakarta maupun New York kurang lebih sebenarnya sama,'' cerita Pram.

Ke depan, selain fokus untuk mengatasi kemacetan dan transportasi, Pram juga menyiapkan langkah strategis dalam mengatasi masalah banjir. Utamanya, dalam melanjutkan program Normalisasi Kali Ciliwung. Sebab, Kali Ciliwung memiliki kontribusi besar dalam mengatasi banjir, bisa mencapai 40 persen.

''Ini kan pro-kontra. Dulu zaman Pak Ahok (Gubernur DKI 2014-2017 Basuki Tjahaja Purnama) ada, tiba-tiba tidak ada. Dan menurut saya salah satu penanganan banjir di Jakarta itu adalah Normalisasi Ciliwung,'' katanya. Oleh karena itu dia sudah meneken beberapa penlok (penetapan lokasi) untuk dibebaskan agar kegiatan normalisasi tersebut bisa dilanjutkan.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore