
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tampil di forum internasional High-Level Political Forum yang digelar di markas besar PBB, New York, Rabu (16/7). (Istimewa)
JawaPos.com - Setelah sepekan di Amerika Serikat untuk menghadiri undangan Forum PBB, Gubernur DKI Pramono Anung mulai aktif kembali memimpin Jakarta, kemarin (22/7). Politisi PDI Perjuangan itu membagikan pengalaman dan wawasannya saat mengunjungi Negeri Paman Sam itu.
Utamanya, saat menjalin komunikasi bilateral dengan beberapa pimpinan kota besar yang juga hadir dalam forum internasional itu. Salah satunya, Kota New York yang memiliki banyak kesamaan dengan Kota Jakarta. Utamanya, populasi penduduk serta aktivitas yang tidak pernah berhenti.
''Dan ketika bilateral, mereka juga menyampaikan problem di New York ternyata tidak lebih ringan daripada problem yang ada di Jakarta,'' ujar Pramono dalam acara Wartalks di Ruang Pola, Grha Ali Sadikin, Balai Kota, Jakarta Pusat, kemarin (22/7).
Meski New York memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang jauh lebih besar dibanding Jakarta, kedua kota metropolitan itu menghadapi persoalan kemacetan yang hampir setara. Luas wilayah New York sekitar 700 kilometer persegi, sedikit lebih besar dari Jakarta yang memiliki luas sekitar 660 kilometer persegi.
Namun, populasi Jakarta jauh lebih padat dengan 11 juta jiwa yang bertambah 4 juta menjadi 15 juta jiwa pada siang hari. Sementara New York berpenduduk sekitar 8 juta jiwa dengan tambahan 5 juta menjadi 13 juta pada siang hari. Sehingga, lanjutnya, hampir apple to apple antara Jakarta dan New York.
''Dulunya, Jakarta itu sama dengan New York selalu 10 besar kota termacet. Jadi, New York itu nomor 2, nomor 1 Brazil, dan Jakarta pasti 10 besar. Sekarang ada survei yang dilakukan oleh TomTom (Traffic Index 2024) Jakarta ada di nomor 90,'' tambah Pram.
Prestasi itu ternyata tidak menjadi perhatian Jakarta, melainkan kota-kota besar di dunia. Sebab, banyak kota besar, termasuk New York mempertanyakan langkah Jakarta bisa mengatasi kemacetan itu.
''Yang awalnya saya mau bertanya, gantian mereka yang bertanya kenapa kok Jakarta bisa melakukan perubahan itu? Persoalan kota metropolitan baik Jakarta maupun New York kurang lebih sebenarnya sama,'' cerita Pram.
Ke depan, selain fokus untuk mengatasi kemacetan dan transportasi, Pram juga menyiapkan langkah strategis dalam mengatasi masalah banjir. Utamanya, dalam melanjutkan program Normalisasi Kali Ciliwung. Sebab, Kali Ciliwung memiliki kontribusi besar dalam mengatasi banjir, bisa mencapai 40 persen.
''Ini kan pro-kontra. Dulu zaman Pak Ahok (Gubernur DKI 2014-2017 Basuki Tjahaja Purnama) ada, tiba-tiba tidak ada. Dan menurut saya salah satu penanganan banjir di Jakarta itu adalah Normalisasi Ciliwung,'' katanya. Oleh karena itu dia sudah meneken beberapa penlok (penetapan lokasi) untuk dibebaskan agar kegiatan normalisasi tersebut bisa dilanjutkan.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
