Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 22 Juni 2024 | 21.27 WIB

Jakarta Mau Dibawa ke Mana?

Warga beraktifitas dianjungan Transjakarta saat cuaca terik di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Selasa (1/8/2023). - Image

Warga beraktifitas dianjungan Transjakarta saat cuaca terik di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Selasa (1/8/2023).

SELAMAT ulang tahun, Jakarta. Ulang tahunmu kali ini begitu spesial. Bukan karena usia yang semakin tua, 497 tahun, nyaris setengah milenium. Melainkan karena inilah perayaan terakhir dengan status daerah khusus ibu kota atau DKI. Sebab, ibu kota negara akan pindah ke Nusantara.

Beberapa perubahan kecil akan langsung terasa. Minimal berkurangnya raungan sirene di jalan, pertanda kendaraan VIP atau VVIP beserta pengiringnya lewat. Juga berbagai perubahan lain yang nanti terlihat secara bertahap.

Dinamika jelang masa transisi perpindahan ibu kota juga mulai terasa. Seperti gejolak di kalangan ASN yang sebagian ogah pindah ke luar Jawa. Termasuk munculnya suara-suara miring, bagaimana nasib Jakarta setelah berpisah dengan pemerintah pusat yang selama ini berkedudukan di sana.

Pertanyaan terakhir itu sebenarnya menggelikan. Coba tengok, di antara 38 provinsi di Indonesia, mana yang APBD-nya lebih dari Rp 40 triliun? Jakarta. Tahun ini nilai APBD Jakarta sudah lebih dari Rp 81 triliun.

Bahkan, gabungan APBD Jawa Barat (terbesar kedua) dan Jawa Timur (terbesar ketiga) tak cukup menandingi kemampuan fiskal Jakarta. Padahal, berdasar sensus penduduk pada 2020, jumlah penduduk Jakarta tak sampai seperempat dari Jawa Barat.

Dengan kemampuan fiskal sebesar itu, lucu kalau nasib Jakarta sampai dipertanyakan. Nanti malah adu nasib dengan provinsi lain. Apalagi, Jakarta tetap akan dijadikan pusat ekonomi dan bisnis Indonesia. Tangan pusat juga diprediksi tetap ada lewat embel-embel kawasan aglomerasi.

Memang, November tahun lalu, Badan Pendapatan Daerah DKI Jakarta memprediksi pemasukan daerah berkurang sekitar Rp 4 triliun bila ibu kota pindah. Meski besar, sesungguhnya nilainya tak sampai 10 persen dari proyeksi pendapatan di APBD Jakarta tahun ini.

Saat ini cukup jalan kaki maksimal 500 meter, penduduk dan pekerja di Jakarta bisa mengakses angkutan umum. Termasuk saya, yang hanya berjalan tak sampai 20 meter dari kantor sudah sampai ke plang bus stop untuk naik angkot. Dan, catat ya, gratis.

Fasilitas kesehatan terbaik di Indonesia adanya juga di Jakarta. Standar pelayanan di level puskesmas sudah sangat baik. Bagi orang yang tinggal di wilayah tetangga seperti saya, layanan kesehatan di Jakarta ada di level yang berbeda.

Memang, masih ada PR besar seperti banjir, macet, kemiskinan, kawasan kumuh, hingga polusi. Itu masalah klasik yang masih butuh solusi signifikan. Tapi, toh tidak menghilangkan anggapan bahwa Jakarta adalah pusat segalanya.

Jadi, Jakarta akan tetap gemerlap dan serba-ada seperti biasa meski bukan lagi ibu kota. Jakarta tetap akan maju meski tak sama seperti dulu. Dan, sebentar lagi, Jakarta juga akan punya gubernur baru. Nanti tinggal kita tanya kepada dia, Jakarta mau dibawa ke mana? (*)

*) BAYU PUTRA, Redaktur Jawa Pos

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore