
Pakar psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel hadir sebagai saksi ahli persidangan kasus pencabulan Mas Bechi. Grace Natashia/JawaPos.com
JawaPos.com–Pakar psikologi forensik Reza Indragiri menyebut pesan terakhir yang ibu dan anak yang ditemukan tinggal kerangka di Cinere, Depok, mengindikasikan kondisi keluarga itu dengan lingkungan sekitarnya.
Pesan itu tertulis frasa To you whomever yang intinya mengatakan bahwa kalau melihat surat itu berarti anak dan ibu itu sudah tewas. Menurut Reza, jika diasumsikan, peristiwa Cinere adalah bunuh diri dan surat bertajuk To You Whomever ditulis sendiri oleh pelaku, ada sejumlah keanehan.
”Aneh bahwa surat tentang suatu keputusan yang amat sangat serius itu tidak dialamatkan ke pihak tertentu, melainkan ditujukan ke siapapun. Seolah tidak ada orang tertentu, baik itu keluarga, sahabat, dokter pribadi, atau siapa pun yang dipandang layak menjadi tempat curhat,” papar Reza.
Dia menjelaskan, bunuh diri adalah buah dari keputusan yang amat sangat serius sekaligus amat sangat salah. Bunuh diri bukan jalan keluar atas problematika hidup.
”Bunuh diri tidak memiliki pembenaran, titik. Alih-alih menyelesaikan masalah, bunuh diri justru melipatgandakan masalah. Minta kekuatan kepada Tuhan. Dan, jika perlu, cari bantuan kepada manusia,” tutur Reza.
Sebab mencantumkan whomever, menurut dia, media dan masyarakat berhak tahu. Itu yang diinginkan pelaku, yakni bunuh dirinya pelaku bukan peristiwa pribadi, melainkan kejadian yang harus menjadi perbincangan khalayak luas. Kedua, agar semua orang tahu isi surat itu dan menindaklanjutinya dengan cara yang tepat.
”Surat yang dikirim ke whomever itu merupakan properti publik. Bukan benda yang boleh disikapi oleh instansi tertentu, termasuk kepolisian, semata. Semua pihak terbebani oleh surat itu,” sebut Reza.
Whomever, tambah Reza, menjadikan surat itu sebagai aset yang bernilai positif. Bahwa, bunuh diri sesungguhnya bukan isu yang intisarinya berada di ranah penegakan hukum.
”Sekian banyak pemangku kepentingan kudu ikut cawe-cawe, termasuk dalam rangka pencegahan agar tidak terjadi peniruan (copycat suicide) dan wabah bunuh diri (suicide epidemic),” ucap Reza.
Selama pandemi Covid 19, Reza Menyatakan, semua fokus tertuju pada perang terhadap virus. Kesehatan fisik menjadi sasaran berbagai kebijakan. Kurang proporsional perhatian diberikan pada kesehatan jiwa.
”Akibatnya, jangan-jangan berbagai peristiwa kejahatan ekstrem dan tragedi kemanusiaan yang terjadi pada waktu-waktu belakangan ini merupakan manifestasi dari terkesampingkannya perhatian pada kesehatan jiwa tersebut,” papar Reza.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
