
Pejalan kaki melewati trotoar dan pedestrian di Kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Selatan. Para pekerja berjalan kaki melintasi trotoar di Kawasan Berorientasi Transit atau Transit Oriented Development (TOD), Halte Bus TransJakarta Gelora
JawaPos.com - Polusi udara di Jakarta sudah memasuki tahap tak sehat untuk tiap warga di ibu kota. Akibatnya, gangguan kesehatan mulai dari pernapasan hingga penyakit sirkulasi darah dapat terjadi.
Oleh karena itu, setidaknya ada empat hal yang dapat dilakukan untuk menghindari gangguan kesehatan yang diakibatkan polusi udara di Jakarta. Yang paling utama adalah menghindari aktivitas di luar ruangan.
"Menghindari aktivitas outdoors terutama kelompok rentan, bayi, balita, pralansia, lansia, dan ibu hamil," ujar Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinkes DKI Jakarta Ngabila Salama kepada wartawan, Selasa (15/8).
Selain itu, seperti halnya saat pandemi Covid-19, jika untuk keperluan mendesak, ia mengatakan bahwa penggunaan masker medis dapat mengurangi dampak buruk akibat polusi udara.
"Menggunakan masker medis N95 jika beraktivitas outdoors," ucap Ngabila.
Langkah ketiga adalah dengan melengkapi 15 imunisasi rutin yang gratis untuk anak-anak.
"Di mana ada beberapa imunisasi untuk mencegah terjadinya ISPA dan pneumonia seperti: PCV, haemophilus influenzae tipe B dalam pentavalen," ucapnya.
"Imunisasi berbayar yang disarankan per tahun ada imunisasi influenzae terutama untuk kelompok rentan anak dan lansia," sambung Ngabila.
Terakhir, langkah paling baik untuk bertahan dari dampak buruk polusi udara adalah dengan menjaga agar imunitas tubuh tetan baik. Caranya adalah dengan melakukan pola hidup CERDIK, yaitu rutin mengecek kesehatan, menjauhi asap rokok, rajin beraktivitas fisik, diet seimbang, istirahat cukup, dan mengelola stres.
Untuk diketahui, Kualitas udara di Jakarta masih bertengger di tiga besar terburuk di dunia. Melansir data dari situs IQAir kota metropolitan ini menduduki peringkat ketiga sebagai kota terburuk kualitas udaranya di dunia.
Adapun tingkat baik atau buruknya suatu kualitas udara adalah dinilai berdasarkan tingkat PM 2,5-nya. Semakin tinggi angka PM 2,5, maka semakin buruk juga kualitas udara di suatu daerah.
Di Jakarta sendiri, per pukul 12.35 WIB, PM 2,5 yang dimiliki kota ini mencapai 159. Hal ini mengindikasikan udara yang tak sehat, tidak hanya untuk kelompok yang sensitif, tetapi juga untuk orang secara umum.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
