Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Juli 2023 | 03.54 WIB

Kesaksian Gira, Penumpang Ojol yang jadi Korban Komplotan Penipuan Lowongan Kerja

Ilustrasi Driver ojol

JawaPos.com – Gira, salah satu pelamar kerja yang berhasil kabur dari sebuah Rumah Toko (Ruko) tempat komplotan perusahaan lowongan kerja bodong menjalankan aksinya, kini bernafas lega. Kendati demikian, Gira masih mempertimbangkan untuk melaporkan kasusnya ke kepolisian, meskipun dirinya menjadi korban penipuan dan uangnya sebanyak Rp 350 ribu melayang.

Ihwal adanya kasus yang menimpanya, awalnya Senin (24/7) malam, dirinya mendapatkan whatsApp undangan interview dari salah satu perusahaan yang dilamarnya melalui platform lowongan kerja.

“Di situ saya disuruh datang hari Selasa (25/7). Waktunya pukul 07.00 Wib-13.30 Wib. Ada keterangan bertemu siapa dan di undangan saya diminta bertemu Ibu Oktasari,” jelas Gira, saat berbincang dengan JawaPos.com, Kamis (27/7).

Mendapat peluang kerja, Gira pun girang. Selasa (25/7) pagi, usai Bada Subuh, dirinya berangkat dari kediamannya di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, menumpang commuter line (KRL) jurusan Jakarta-Bekasi. Sesampainya di Stasiun Kranji Bekasi, Gira pun langsung menuju alamat Ruko yang dikirim pihak perusahaan.

Sesampainya di Ruko, Gira pun menunjukan bukti WA yang diterimanya kepada salah seorang yang mengaku sebagai HRD bernama Oktasari.

“Saya tunjukan undangan. Di situ disuruh menunggu. Selesai menungu di suruh masuk ruangan lantai satu,” jelas mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Bekasi tersebut.

Usai lama menunggu, ternyata tak ada tes yang harus dilakukan Gira sebagaimana posisi yang tercantum dalam info lowongan kerja yang dilamarnya.

“Yang mengaku HRD malah nanya saya ini siapa, alamat sekarang di mana. Habis itu dia jelasin jodbesk saya. Jobdesk kan lamar staf administrasi entry data. Katanya saya harus bisa operasi kan MS Office. Ya saya bilang bisa,” paparnya.

Kejanggalan pun mulai dirasakan Gira. Usai ditanya hal tentang personalnya, dirinya tiba-tiba langsung diminta membayar Rp 1,6 juta.

“Katanya Rp 1,6 untuk penjamin posisi, karena yang lamar banyak. Jadi supaya posisi tidak tergeser. Di situ saya sudah mulai sadar ada yang nggak sinkron. Karena di Web (lowongan kerja) nggak dipungut biaya. Sedangkan di sini tiba-tiba ada biaya. Saya langsung alibi baru ada uang besok,” urai Gira.

Tak percaya Gira, sang HRD pun kembali merayu Gira. “HRD bilang mas-nya nggak DP dulu untuk jamin posisi?” ucap Gira menirukan sang HRD.

Gira pun penasaran. “Saya tanya, berapa DP nya? Dijawab Rp 350 ribu.

Tak lama kemudian, Gira pun ditanya mau bayar cash atau transfer. Tanpa pikir panjang, Gira pun kepincut dan langsung membayar uang DP sebesar Rp 350 via transfer. Setelah dibuatkan kwitansi tanda pembayaran, Gira pun diminta menghadap bos perusahaan bodong tersebut ke lantai 3 untuk jelasin masalah pelunasan biaya.

Singkat cerita, usai berbincang dengan sang bos dan asistennya, kecurigaan Gira pun semakin bertambah. Ini karena Gira diminta mengisi dokumen dan menandatangani sebuah perjanjian di atas materai. Karena klausul pasalnya ganjil, Gira pun menolak menandatangani perjanjian.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore