Sejumlah tiang monorel yang digunakan sebagai vertikal garden di Jalan Rasuna Said, Jakarta, Senin (24/11/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Pemprov DKI Jakarta akan membongkar tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, pada Rabu (14/1). Tiang monorel merupakan peninggalan proyek mangkrak dari Pemprov DKI Jakarta pada 20 tahun silam.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sengaja memilih Rabu (14/1) sebagai waktu pembongkaran karena ingin semua pejabat menghadiri kegiatan tersebut menggunakan transportasi publik. Apalagi di Pemprov DKI Jakarta bahwa rabu merupakan hari Transportasi Umum yang mewajibkan semua AS menggunakan transportasi umum dalam upaya menekan angka kemacetan lalu lintas di Jakarta.
Langkah pembongkaran itu mendapat dukungan dari legislatif. Utamanya, Komisi D DPRD DKI yang membidangi urusan infrastruktur di Jakarta. “Pembongkaran tiang monorel ini bisa menjadikan Jakarta lebih rapi dan indah,”ujar Ketua Komisi D DPRD D Yuke Yurike di Gedung DPRD DKI, Kamis (8/1).
Menurut Yuke, tiang monorel yang tidak digunakan hingga puluhan tahun itu sangat merusak estetika kota Jakarta yang saat ini sedang berusaha bertransformasi menjadi kota global yang berdaya saing.
Sejumlah tiang monorel yang digunakan sebagai vertikal garden di Jalan Rasuna Said, Jakarta, Senin (24/11/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
“Oleh karena itu, kami sangat mendukung kebijakan pak gubernur untuk membenahi Jalan Rasuna Said itu,” imbuhnya. Dengan langkah pembenahan, lanjutnya, Jakarta tahun 2026 bisa menjadi lebih rapih, indah, dan tidak macet.
Lebih lanjut politikus PDI Perjuangan itu juga menyampaikan bahwa kerapihan dan keindahan Jakarta menjadi tuntutan yang harus dipenuhi dalam menghadapi perubahan status Jakarta agar bisa sejajar dengan kota-kota modern di dunia. Karena itu, lanjutnya, penataan Jakarta pada 2026 harus dilakukan secara masif. Sebab, masih banyak ruas jalan di Jakarta yang terdapat proyek pekerjaan.
“Kita semua ingin, masyarakat tidak lagi merasa kesulitan dengan adanya kemacetan saat melakukan aktivitas kerja sehari-hari," tambahnya.
Lebih lanjut, dia juga menekankan pentingnya sosialisasi bagi pengguna jalan HR Rasuna Said tersebut. Tujuannya, agar masyarakat bisa ikut terlibat dalam mengatisipasi efek kemacetan pada waktu pengerjaan.
"Sosialisasi itu sangat diperlukan, jangan sampai terjadi kemacetan parah saat kegiatan pembongkaran dilakukan. Meskipun memang, kegiatan utamanya (pembongkaran, Red) dilakukan pada malam hari. Saat ini kan kondisi cuaca juga tidak menentu,” tambahnya. Yuke tidak menginginkan saat pembongkaran tiang berlangsung, terjadi kemacetan sekaligus genangan yang berdampak terhadap aktivitas masyarakat di sana.(rya)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
